The Fed Naikkan Bunga, BI Tahan di 5,75%: Kapan Giliran Rupiah?

Kenaikan bunga The Fed September 2026 mengejutkan pasar. BI sudah lebih dulu mengetatkan, tapi ujian sesungguhnya ada di RDG 20-21 Oktober: tahan bunga demi pertumbuhan, atau naik lagi demi rupiah?

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

The Fed Naikkan Bunga, BI Tahan di 5,75%: Kapan Giliran Rupiah?

September 2026, The Fed mengubah arah. Dari tiga kali pemangkasan di akhir 2025, bank sentral AS ini tiba-tiba menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4% pada 16 September. Keputusan bulat 12-0 dari seluruh pejabat The Fed ini menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023.

Yang mengkhawatirkan bukan cuma aksinya, tapi juga sinyal di belakangnya. Dalam proyeksi terbaru (dot plot), 16 dari 18 pejabat The Fed masih melihat ada ruang kenaikan bunga lagi tahun ini. Dua rapat berikutnya—FOMC 28 Oktober dan 9 Desember—sekarang jadi Events yang harus diamati pelaku pasar.

BI Sudah Lebih Dulu Bergerak

Bank Indonesia sebenarnya tidak lengah. Sejak Mei 2026, BI Rate sudah dinaikkan bertahap hingga 5,75%, akumulasi 100 basis poin dalam dua bulan. Ketika The Fed akhirnya bergerak di September, BI justru memilih menahan BI Rate di 5,75% dalam RDG 22-23 September.

Pendekatannya berbeda. Alih-alih mengikuti langkah The Fed secara pasif, BI menggeser fokus ke stabilisasi nilai tukar lewat insentif untuk menarik modal asing dan pendalaman pasar valas. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai strategi ini menunjukkan BI sudah mengetatkan lebih awal, sehingga tidak perlu berlebihan ketika The Fed akhirnya bereaksi.

"BI sudah mengetatkan lebih awal. Jadi ketika The Fed bergerak, BI punya ruang untuk menahan dan melihat efeknya," kata Josua, sebagaimana diberitakan Kompasiana, 13 Oktober 2026.

Mengapa pengetatan dini ini penting? Banyak bank sentral negara berkembang yang terlambat bergerak dan akhirnya harus menaikkan bunga secara agresif demi mempertahankan mata uangnya—strategi yang kerap membunuh pertumbuhan domestik. BI, karena sudah bergerak duluan, memiliki ruang lebih luas untuk menahan suku bunga tanpa mengorbankan stabilitas rupiah.

Rupiah di Garis Merah Tipis

Tekanan terhadap rupiah memang terasa, tapi belum menunjukkan tanda-tanda krisis. Rupiah tercatat Rp17.855 per dolar AS pada 22 September, hanya melemah terbatas dari akhir Agustus. Posisi ini lebih baik dibandingkan banyak mata uang emerging market lain yang anjlok lebih dalam saat nada The Fed berubah hawkish.

Ekonom Danamon memperkirakan rupiah bisa berada di kisaran Rp17.900-Rp18.000 menjelang akhir tahun. Itu bukan wilayah nyaman, tapi juga bukan kondisi darurat. Yang menentukan adalah dua faktor: cadangan devisa yang tetap solid, dan apakah arus modal asing mau kembali masuk ke surat utang dan saham Indonesia.

Cadangan devisa menjadi perisai pertama. Kalau cadangan devisa turun signifikan, BI akan lebih sulit mempertahankan nilai tukar tanpa menaikkan bunga. Sebaliknya, cadangan devisa yang tebal memberi BI opsi untuk menggunakan sebagian cadangannya干预 pasar valas tanpa harus mengubah suku bunga.

Pertumbuhan di Atas 5%, Masih Tahan

Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. PDB tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026, melambat dari 5,61% di kuartal I. Namun angka ini tetap di atas 5%—level yang dianggap batas psikologis penting—dan ternyata lebih baik dari proyeksi sejumlah ekonom yang memperkirakan pertumbuhan di bawah 5%.

Yang tidak kalah penting, BI menegaskan bahwa kebijakan makroprudensial yang longgar terus diperkuat agar kredit ke sektor riil tetap mengalir. Secara sederhana, makroprudensial longgar artinya BI memberi kelonggaran kepada bank-bank untuk menyalurkan kredit lebih agresif ke sektor riil—seperti usaha kecil, properti, dan konsumsi—tanpa memberatkan persyaratan likuiditas mereka. Tujuannya agar pengetatan suku bunga tidak serta-merta mencabut dukungan ke dunia usaha.

Josua Pardede menekankan bahwa stabilitas dan pertumbuhan bukanlah dua hal yang berlawanan. "Stabilitas adalah prasyarat pertumbuhan, bukan lawannya, karena nilai tukar yang terjaga menopang daya beli dan kepercayaan investor," katanya.

Apa Artinya buat Trader

Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya dijadwalkan 20-21 Oktober 2026, dua hari sebelum FOMC 28 Oktober. Berikut hal-hal konkret yang perlu dipantau:

Level rupiah. Perhatikan apakah rupiah mulai mendekati atau menembus Rp17.900. Kalau rupiah konsisten di atas level itu, risiko BI kembali menaikkan bunga di Oktober meningkat. Sebaliknya, kalau rupiah stabil di bawah Rp17.900, BI punya landasan lebih kuat untuk menahan dan fokus ke pertumbuhan.

Sinyal The Fed di Oktober. statements maupun notulen rapat The Fed sebelum 28 Oktober akan dibaca ketat. Nada hawkish tambahan bisa mendorong dolar AS menguat dan menambah tekanan ke rupiah.

Yield Surat Utang Negara (SUN). Dengan BI Rate di 5,75% (naik dari 4,75% di awal tahun), yield SUN juga cenderung naik. Obligasi pemerintah RI bisa menarik minat investor asing kalau selisih bunga dengan US Treasury masih cukup lebar. Pantau pergerakan外资 di pasar obligasi pemerintah sebagai indikator awal.

Sektor perbankan versus sektor pertumbuhan. Saham bank cenderung diuntungkan saat bunga naik karena margin bunga bersih (NIM) membaik—bank mendapat bunga lebih tinggi dari kredit tanpa harus menaikkan bunga simpanan secepat itu. Sementara saham sektor pertumbuhan seperti teknologi dan konsumer mungkin tertekan karena biaya modal naik dan daya beli konsumen melambat.

Oportunitas akumulasi berkala. Pelemahan rupiah yang terkelola—bukan krisis—bisa jadi momen bagi investor ritel Indonesia untuk mengakumulasi aset-aset berdenominasi dolar secara berkala melalui reksa dana atau emas, tanpa perlu merasa harus menebak timing pasar.

Rapat BI 20-21 Oktober akan menjadi penentu arah berikutnya. Sampai saat itu, setiap komentar pejabat BI dan data makroekonomi AS akan dibaca cermat untuk anticipation langkah selanjutnya.

Sumber

  1. kompasiana.com · The Fed Galak, BI Serba Salah: Mau Ikut Naikkan Bunga atau Jaga Pertumbuhan
  • #The Fed
  • #Bank Indonesia
  • #suku bunga
  • #rupiah
  • #BI Rate
  • #makroprudensial
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.