BEI Depak Saham HSC dari IHSG, Bobotnya Capai 18 Persen
BEI akan mengeluarkan 80 saham berkategori HSC dari perhitungan IHSG demi indeks yang lebih kredibel, tanpa delisting.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan mengeluarkan seluruh saham berkategori high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengumumkan rencana ini dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin, 19 Oktober 2026.
"Untuk memberikan indeks harga yang lebih kredibel dan berintegritas, kami akan mengeluarkan seluruh saham high shareholding concentration dari indeks harga saham gabungan," kata Jeffrey, seperti dikutip Kompas.com.
Apa itu saham HSC
HSC adalah singkatan dari high shareholding concentration, sebutan BEI untuk saham yang kepemilikannya dikuasai segelintir investor saja. Semakin sedikit pemegang saham yang aktif bertransaksi, semakin rawan harga saham tersebut bergerak tidak wajar, karena order jual beli bisa didominasi segelintir pihak.
Jeffrey menyebut ada "potensi risiko" yang melekat pada saham dengan struktur kepemilikan seperti ini. Meski begitu, BEI menegaskan status HSC bukan berarti emiten melanggar peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Kategori ini murni soal struktur kepemilikan saham, bukan soal pelanggaran hukum.
Bobotnya 18 Persen dari IHSG, 80 Emiten Terdampak
BEI mencatat ada 80 emiten yang masuk kategori HSC per pengumuman ini. Gabungan saham-saham tersebut menyumbang bobot sekitar 18 persen di dalam IHSG, angka yang terbilang besar mengingat IHSG jadi acuan utama pergerakan pasar saham Indonesia yang dipantau setiap hari oleh investor ritel maupun institusi.
Dengan bobot sebesar itu, pergerakan harga segelintir saham HSC berpotensi ikut menyeret arah IHSG, padahal partisipasi pasar riil di saham-saham tersebut sangat terbatas. Inilah alasan utama BEI mencoret mereka dari perhitungan indeks utama.
Bukan Kebijakan Baru, Sudah Berlaku di Indeks Flagship Lain
Langkah ini sebenarnya kelanjutan dari aturan yang sudah berjalan. Saham-saham HSC sebelumnya sudah dikeluarkan, atau sejak awal tidak bisa masuk, ke beberapa indeks flagship BEI seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Ketiga indeks itu memang dirancang untuk menampilkan saham-saham paling likuid dan berkapitalisasi besar di bursa.
Jeffrey menyampaikan bahwa ke depan seluruh saham HSC juga bakal dikeluarkan dari perhitungan IHSG. BEI membingkai langkah ini sebagai bagian dari inisiatif baru untuk melanjutkan reformasi di pasar saham Indonesia.
Bukan Delisting, Saham Tetap Bisa Diperdagangkan
Jeffrey menegaskan kebijakan ini bukan delisting atau penghapusan pencatatan saham dari bursa. Saham-saham berkategori HSC tetap bisa diperdagangkan seperti biasa di BEI. Bedanya, pergerakan harga saham tersebut tidak lagi ikut memengaruhi pergerakan IHSG.
Tujuannya, menurut Jeffrey, supaya gambaran pergerakan IHSG jadi lebih wajar. Selama ini indeks bisa melonjak atau anjlok signifikan hanya karena pergerakan segelintir saham yang kepemilikannya terkonsentrasi, padahal partisipasi pasar yang sesungguhnya jauh lebih sempit dari yang terlihat di angka indeks.
Kenapa Transparansi Indeks Jadi Isu Penting Sekarang
IHSG dihitung dengan metode pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar, jadi semakin besar nilai pasar suatu saham, semakin besar pula pengaruhnya terhadap pergerakan indeks. Masalahnya, kapitalisasi pasar yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan likuiditas atau sebaran kepemilikan yang sehat. Saham HSC bisa saja punya kapitalisasi besar di atas kertas, tapi mayoritas sahamnya cuma berpindah tangan di antara segelintir pemodal.
IHSG dipakai sebagai acuan oleh banyak pihak: manajer investasi yang mengelola reksa dana indeks, analis yang menyusun proyeksi makro, sampai investor ritel yang memantau sentimen pasar setiap hari. Kalau 18 persen bobot indeks digerakkan oleh saham-saham dengan kepemilikan sempit, sinyal yang ditangkap dari naik turunnya IHSG bisa menyesatkan ketimbang mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya.
Bagi reksa dana indeks atau produk investasi pasif yang melacak IHSG, perubahan komposisi ini berarti perlu penyesuaian portofolio begitu saham-saham HSC resmi dikeluarkan dari perhitungan. Bobot saham dengan sebaran kepemilikan dan likuiditas yang lebih merata otomatis akan membesar begitu saham HSC dicoret.
Apa Artinya buat Investor
Investor yang memegang saham berkategori HSC perlu memantau daftar resmi 80 emiten yang disebut BEI, sebab status ini bisa memengaruhi persepsi pasar terhadap likuiditas saham tersebut meski bukan pelanggaran hukum. Saham tetap bisa dijual beli seperti biasa di bursa, jadi tidak ada keharusan melepas posisi.
Bagi yang memakai IHSG sebagai acuan reksa dana indeks atau exchange traded fund (ETF), ada baiknya memantau jadwal rebalancing begitu BEI merilis aturan resmi beserta tanggal efektifnya, karena komposisi bobot indeks berpotensi berubah cukup signifikan dari 18 persen yang dikeluarkan.
Satu hal lagi yang relevan buat trader harian: begitu saham-saham HSC keluar dari penghitungan, pergerakan IHSG ke depan kemungkinan lebih mencerminkan partisipasi pasar yang luas, dan tidak gampang tergerak hanya karena transaksi di saham dengan pemegang saham terbatas.
Skenario yang Perlu Dipantau
Beberapa hal layak diawasi dalam beberapa pekan ke depan. Pertama, tanggal resmi efektif aturan ini berlaku, sebab sumber yang ada belum menyebutkan kapan implementasinya dimulai. Kedua, daftar lengkap 80 emiten HSC yang bakal dikeluarkan, karena BEI belum merinci nama-nama saham tersebut secara publik dalam pengumuman ini.
Ketiga, dampak ke bobot sektor di dalam IHSG begitu 18 persen kapitalisasi saham HSC keluar dari perhitungan. Perubahan sebesar itu berpotensi menggeser dominasi sektor tertentu dalam indeks, terutama kalau mayoritas saham HSC berasal dari sektor atau grup bisnis yang sama.
FAQ seputar Saham HSC dan IHSG
Apa itu saham HSC?
HSC atau high shareholding concentration adalah sebutan BEI untuk saham yang kepemilikannya dikuasai segelintir investor saja, sehingga harganya rawan bergerak tidak wajar karena transaksi didominasi sedikit pihak.
Apakah saham HSC didepak dari bursa?
Tidak. BEI menegaskan kebijakan ini bukan delisting, saham HSC tetap bisa diperdagangkan seperti biasa, hanya pergerakan harganya tidak lagi dihitung dalam IHSG.
Berapa banyak saham yang masuk kategori HSC?
Menurut BEI per 19 Oktober 2026, ada 80 emiten yang masuk kategori HSC dengan bobot sekitar 18 persen dari IHSG.
Kapan aturan ini mulai berlaku?
Sumber yang tersedia belum menyebut tanggal efektif penerapan, BEI baru mengumumkan rencana ini lewat konferensi pers pada 19 Oktober 2026.
Sumber
- detikFinance · Bursa Depak Saham HSC dari Hitungan IHSG
- CNN Indonesia Ekonomi · BEI Bakal Depak Saham HSC dari IHSG, Apa Alasannya?
- money.kompas.com · BEI Bakal Keluarkan Saham yang Dikuasai Segelintir Pemodal dari Perhitungan IHSG
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.