IHSG Ditutup 5.925,98, Masih di Bawah 6.000 Jelang Rilis CPI AS
IHSG turun 0,17% ke 5.925,98 pada Selasa (13/10). Analis memantau CPI AS, isu MSCI, dan konflik Arab Saudi-Houthi, dengan support 5.850-5.800.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
IHSG ditutup turun 0,17% atau 10,17 poin ke 5.925,98 pada Selasa (13/10/2026). Indeks belum bisa kembali ke atas level psikologis 6.000. Padahal Jumat (9/10) lalu IHSG masih ditutup di 6.093,76 setelah naik 1,04%.
Koreksi Selasa terbilang tipis dibanding hari sebelumnya. Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat penutupan kemarin disertai munculnya volume beli. Ia menyebutnya technical rebound, setelah indeks turun cukup dalam di perdagangan sebelumnya dan di sesi pertama Selasa.
Dari 6.093 ke 5.925 dalam dua sesi
Kenaikan Jumat lalu ditopang tiga nama besar. Menurut CNBC Indonesia, BBRI naik 2,31%, AMMN menguat 4,01%, dan TLKM naik 2,65% sebagai leading movers. Pemberat indeks hari itu adalah BYAN yang turun 4,07%, GEMS yang anjlok 9,97%, dan TINS yang terkoreksi 2,41%.
Indeks memang hijau, tapi CNBC Indonesia mencatat asing tetap net sell Rp141,50 miliar. Penguatan itu tidak bertahan lama. Dalam dua sesi berikutnya, IHSG kehilangan hampir 168 poin.
Tiga beban: MSCI, Timur Tengah, dan inflasi AS
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda, seperti dilaporkan Kontan, menilai tekanan jual di bursa belum reda. Ia menyebut tiga sumber kekhawatiran. Pertama, konflik Arab Saudi-Houthi yang makin panas. Kedua, kekhawatiran soal MSCI. Ketiga, investor yang menahan diri sambil menunggu data inflasi AS.
Data itu adalah Consumer Price Index (CPI) AS periode September. Konsensus memperkirakan inflasi tahunan naik ke 3,6%, dari 3,4% pada Agustus. Kalau realisasinya lebih panas dari perkiraan, dolar AS bisa menguat. Rupiah dan arus dana asing pun berisiko ikut tertekan.
Sejauh ini rupiah malah menguat terhadap dolar AS dan berada di Rp17.894. Herditya menambahkan, pasar juga menunggu rilis data inflasi China.
Peta teknikal dari dua analis
Reza masih membaca tren IHSG bearish. Indeks bergerak di bawah MA20 yang ada di sekitar 6.188, sementara MACD masih negatif. Support terdekat versinya ada di 5.850-5.800. Kalau zona itu jebol, ruang turun terbuka ke 5.750. Di atas, resistance ada di 6.000-6.020, dan area ini harus ditembus lagi supaya peluang pemulihan terbuka.
Herditya lebih optimistis untuk besok. Ia memperkirakan IHSG berpeluang menguat pada Rabu (14/10), dengan support 5.892 dan resistance 5.957. Rentangnya sempit, cuma sekitar 65 poin.
Saham yang masuk radar analis
Reza menyebut PTBA, ERAA, dan EMAS sebagai saham yang bisa dicermati. Herditya memilih ARCI di rentang 1.290-1.360, INDY di kisaran 2.780-2.990, dan MIDI di rentang 290-304. Daftar ini pandangan masing-masing analis, bukan rekomendasi Queenby News.
Apa artinya buat investor
Untuk jangka pendek, arah IHSG banyak ditentukan faktor dari luar negeri. Beberapa hal yang bisa dipantau:
- Angka CPI AS September. Bandingkan dengan konsensus 3,6%. Menurut Reza, angka yang lebih tinggi bisa menguatkan dolar dan menekan rupiah serta aliran dana asing.
- Zona 6.000-6.020. Reza menilai IHSG perlu kembali menembus area ini untuk membuka peluang pemulihan.
- Support 5.850-5.800. Ini lantai terdekat versi BRI Danareksa. Kalau tembus ke bawah, target berikutnya 5.750.
- Rentang 5.892-5.957 untuk Rabu. Ini batas harian versi MNC Sekuritas. Keluar dari rentang ini menandakan pergerakan yang lebih lebar dari perkiraan analis.
- Rupiah dan arus asing. Rupiah kini di Rp17.894 per dolar AS. Jumat lalu asing tetap net sell Rp141,50 miliar walau indeks naik 1%, jadi data net buy atau net sell harian layak dicek.
Kabar baru soal MSCI dan konflik Arab Saudi-Houthi tetap bisa menggeser sentimen dengan cepat, apa pun sinyal teknikalnya.
Sumber
- investasi.kontan.co.id · IHSG Berpeluang Menguat pada Rabu (14/10), Simak Saham Pilihan Analis
- CNBC Indonesia Market · Usai IHSG Terbang 1%, Simak 5 Rekomenasi Saham Pilihan Ini
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.