Maybank Sekuritas Pangkas Target IHSG 2026 ke 6.900

Maybank Sekuritas pangkas target akhir 2026 IHSG dari 7.500 ke 6.900, dipicu laba emiten yang lambat pulih dan arus keluar asing US$6,1 miliar.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Maybank Sekuritas Pangkas Target IHSG 2026 ke 6.900

Maybank Sekuritas Indonesia memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 6.900, turun dari target sebelumnya di 7.500. Keputusan ini diumumkan lewat riset yang terbit Rabu, 14 Oktober 2026, saat IHSG ditutup di level 5.943,02, melemah 32,07% sepanjang tahun berjalan.

Target baru itu mencerminkan valuasi sekitar 10,9 kali estimasi laba 2026. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, menyebut pemulihan laba emiten berjalan lebih lambat dari perkiraan semula sehingga belum cukup mendorong kinerja pasar saham secara berkelanjutan.

Proyeksi laba dipangkas, pertumbuhan belum merata

Maybank Sekuritas menurunkan proyeksi pertumbuhan laba inti agregat emiten dalam cakupan risetnya menjadi 8,3% secara tahunan, dari estimasi sebelumnya 9,4%. Jeffrosenberg menilai pertumbuhan laba sebenarnya masih berlanjut, hanya saja prosesnya lebih lemah dari yang diperkirakan pasar.

"Kami tetap khawatir bahwa pertumbuhan laba akan membutuhkan waktu untuk diterjemahkan menjadi kinerja saham yang lebih kuat," tulis Jeffrosenberg dalam risetnya, dikutip dari Kontan.

Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih terkonsentrasi di sejumlah sektor saja. Di sisi lain, harga energi yang bertahan tinggi berpotensi menekan daya beli masyarakat, menggerus margin perusahaan, dan menambah beban subsidi pemerintah. Kenaikan suku bunga juga berisiko memperketat likuiditas sistem keuangan, apalagi kalau tekanan itu berlanjut dan memicu pelemahan rupiah.

Menurut Jeffrosenberg, stabilitas rupiah dan kredibilitas fiskal jadi faktor kunci untuk menopang pemulihan pasar secara berkelanjutan. Ketidakpastian kebijakan baru juga berpotensi menekan kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik.

Aksi jual asing dan rights issue bebani likuiditas

Tekanan di pasar saham juga datang dari sisi arus modal. Maybank mencatat aksi jual bersih investor asing meningkat jadi US$ 496 juta pada September 2026, naik dari US$ 201 juta di Agustus 2026. Dengan tambahan itu, total arus keluar dana asing sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar US$ 6,1 miliar.

Nilai transaksi harian rata-rata ikut turun 6% secara bulanan menjadi sekitar US$ 800 juta. Sektor keuangan jadi kontributor terbesar aksi jual asing, menyumbang sekitar 60% dari total outflow sepanjang tahun berjalan.

Komposisi kepemilikan saham pun bergeser. Porsi kepemilikan asing di pasar saham Indonesia turun menjadi 35,8%, sementara kepemilikan investor ritel domestik naik menjadi 51,7%. Maybank Sekuritas menilai ketergantungan pasar yang makin besar pada investor ritel membuat IHSG lebih rentan kalau momentum beli dari investor domestik melemah.

Di atas tekanan arus asing, pasar juga harus menyerap kebutuhan dana dari rangkaian rights issue. Rights issue sendiri adalah skema emiten menambah modal dengan menjual saham baru lebih dulu kepada pemegang saham lama lewat hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Investor yang mau mempertahankan proporsi kepemilikannya harus menyetor dana segar untuk menebus haknya, sehingga likuiditas yang tadinya bisa dipakai beli saham lain justru tersedot ke aksi korporasi ini.

Maybank memperkirakan nilai rights issue dalam empat bulan mendatang mencapai sekitar Rp18 triliun, dengan rincian KOTA Rp5 triliun, ENRG Rp4,2 triliun, VKTR Rp3 triliun, MGLV Rp2,5 triliun, BUVA Rp1,5 triliun, CBRE Rp1,3 triliun, BRNA Rp370 miliar, dan AHAP Rp175 miliar.

Proyeksi itu belum memasukkan rencana penerbitan sekitar 155 miliar saham baru oleh DOOH. Kalau aksi korporasi DOOH ikut dihitung, total penerbitan saham berpotensi membengkak jadi Rp30 triliun hingga Rp40 triliun, tergantung harga pelaksanaan dan waktu realisasinya. Jeffrosenberg menilai kebutuhan dana untuk ikut rights issue bisa memaksa investor menjual saham lain dalam portofolionya atau menunda pembelian di pasar sekunder, yang pada akhirnya memperpanjang tekanan likuiditas pasar secara umum.

Tekanan dari luar: yield Treasury, minyak, dan Eropa

Di pasar global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut meningkatkan persaingan dalam memperebutkan aliran modal. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,25%, membuat aset pendapatan tetap berdenominasi dolar AS makin menarik dibanding aset berisiko seperti saham emerging market.

Bagi Indonesia, arus masuk dana asing yang masih lemah dan tekanan terhadap rupiah berpotensi menahan imbal hasil obligasi domestik serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di level tinggi. Kondisi ini bisa membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dan menghambat kenaikan valuasi saham.

Ketegangan di Timur Tengah juga mendorong harga minyak mentah Brent melampaui US$ 105 per barel. Harga energi yang tinggi menambah beban impor energi dan subsidi pemerintah, sekaligus menekan margin perusahaan dan daya beli rumah tangga. Di Eropa, Bank Sentral Eropa memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan euro hanya 0,9% pada 2026, yang jadi tantangan tambahan bagi permintaan ekspor Indonesia.

Tinjauan MSCI November jadi faktor lain yang diawasi

Selain soal laba dan arus modal, investor juga menunggu tinjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026. MSCI saat ini masih mempertahankan pembatasan terhadap penambahan saham baru ke indeks dan kenaikan klasifikasi saham di dalamnya.

MSCI sendiri adalah penyedia indeks acuan yang dipakai banyak reksa dana dan exchange-traded fund (ETF) pasif secara global untuk menentukan alokasi investasi ke suatu negara. Kalau bobot Indonesia di indeks MSCI naik, dana pasif otomatis mengalir masuk mengikuti perubahan tersebut. Pembatasan yang masih berlaku saat ini berarti potensi arus masuk dari investor pasif tetap terbatas, setidaknya sampai ada perubahan status di tinjauan berikutnya.

Dalam skenario dasarnya, Maybank Sekuritas memperkirakan Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang atau emerging market, dengan pembatasan yang berlaku saat ini kemungkinan masih berlanjut setelah tinjauan tersebut.

Apa artinya buat investor

Target 6.900 dari Maybank mengandung implikasi bahwa ruang penguatan IHSG dari level 5.943,02 saat ini relatif terbatas dibanding ekspektasi awal tahun yang sempat mematok 7.500. Dengan investor ritel kini menguasai 51,7% kepemilikan pasar, pergerakan indeks juga jadi lebih mudah terseret sentimen jangka pendek dibanding saat dana asing masih dominan. Beberapa hal konkret yang layak dipantau:

  • Arus jual bersih asing bulanan, terutama di sektor keuangan yang jadi penyumbang terbesar outflow tahun ini.
  • Jadwal realisasi rights issue KOTA, ENRG, VKTR, MGLV, BUVA, CBRE, BRNA, dan AHAP dalam empat bulan ke depan, serta kepastian rencana penerbitan saham DOOH yang bisa menambah total hingga Rp40 triliun.
  • Pergerakan imbal hasil US Treasury 10 tahun di sekitar 5,25% dan harga minyak Brent di atas US$ 105 per barel sebagai indikator tekanan eksternal.
  • Hasil tinjauan MSCI pada November 2026 terkait status pasar Indonesia dan pembatasan penambahan saham ke indeks.
  • Rilis data pertumbuhan laba emiten berikutnya untuk melihat apakah proyeksi 8,3% YoY dari Maybank bisa tercapai atau justru direvisi lagi.

Bagi investor ritel yang porsinya kini mencapai 51,7% dari kepemilikan pasar saham Indonesia, dinamika ini berarti pergerakan IHSG makin bergantung pada minat beli domestik. Kalau momentum itu melemah di tengah tekanan rights issue dan outflow asing, volatilitas indeks berpotensi tetap tinggi sampai akhir tahun.

Sumber

  1. investasi.kontan.co.id · Maybank Sekuritas Pangkas Target IHSG 2026 Jadi 6.900, Ini Penyebabnya
  • #IHSG
  • #Maybank Sekuritas
  • #BEI
  • #saham Indonesia
  • #arus modal asing
  • #rights issue
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.