Saham BMRI: Profil Bank Mandiri, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
BMRI diperdagangkan Rp3.980 per 14 Oktober 2026, dekat level bawah rentang 52 minggu, di tengah net sell asing dan isu risiko kredit.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
BMRI adalah kode saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Bursa Efek Indonesia, bank BUMN yang bergerak di bidang perbankan korporat dengan jaringan cabang dan layanan digital terbesar di Indonesia. Bank ini lahir dari penggabungan empat bank pemerintah pada 1999 dan sejak 2003 sahamnya tercatat di BEI. Mayoritas sahamnya kini dipegang negara lewat Danantara Asset Management.
Ringkasan saham BMRI
Per 14 Oktober 2026.
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Kode | BMRI |
| Nama resmi | PT Bank Mandiri (Persero) Tbk |
| Sektor/subsektor | Keuangan, perbankan korporat |
| Tahun IPO | 2003 |
| Harga terakhir | Rp3.980 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp398.000 (100 lembar) |
| Rentang 52 minggu | Rp3.650 - Rp5.375 |
| Kinerja 1 bulan | -8,3% |
| Kinerja 3 bulan | -5,2% |
| Kinerja 1 tahun | -2,7% |
| Indeks | belum ada di sumber yang kami cek |
Bisnis Bank Mandiri
Bank Mandiri adalah bank BUMN terbesar dari sisi jaringan, dengan fokus historis di perbankan korporat sejak awal berdiri. Hingga akhir 2025, bank ini punya 139 kantor cabang, 2.014 kantor cabang pembantu, dan 12.972 unit ATM serta mesin CRM yang tersebar di seluruh Indonesia, menurut catatan Wikipedia.
Jaringan internasionalnya mencakup kantor di Shanghai, Cayman Islands, Dili, Hong Kong (termasuk kantor remitansi), dan Singapura, plus cabang anak perusahaan di Kuala Lumpur lewat Mandiri International Remittance dan di London. Di sisi digital, bank ini mengandalkan Livin' by Mandiri untuk nasabah ritel dan Kopra by Mandiri untuk nasabah korporat dan institusi, didukung lini kartu kredit Mastercard, Visa, dan JCB dalam berbagai varian, serta layanan e-money.
Sebagai bank pelat merah, Bank Mandiri juga punya sejumlah anak usaha: sekuritas lewat Mandiri Sekuritas, pembiayaan lewat Mandiri Tunas Finance, modal ventura lewat Mandiri Capital, dan dulu bisnis asuransi jiwa lewat AXA Mandiri serta Mandiri Inhealth sebelum mayoritas sahamnya dilepas ke IFG Life pada 2024.
Sejarah singkat dan IPO
Bank Mandiri didirikan pemerintah pada 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari restrukturisasi perbankan nasional pasca krisis finansial Asia 1997. Pada Juli 1999, empat bank pemerintah yakni Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia resmi digabung ke dalamnya, dan bank mulai beroperasi penuh pada 1 Agustus 1999.
Proses konsolidasi awal cukup berat. Sebanyak 194 kantor cabang ditutup dan jumlah pegawai dipangkas dari 26.600 menjadi 17.620 orang, sambil mengganti sembilan sistem perbankan warisan empat bank pendahulu menjadi satu sistem baru secara bertahap selama tiga tahun. Salah satu alasannya adalah mitigasi risiko konsentrasi kredit korporat, yang pada akhir 1999 mencapai 87% dari total kredit bank.
Bank Mandiri resmi melantai di BEI pada 2003. Setelahnya bank ini aktif berakuisisi, termasuk 80% saham Bank Sinar Harapan Bali pada Mei 2008, mayoritas saham Tunas Financindo Sarana yang kemudian jadi Mandiri Tunas Finance pada 2009, dan 60% saham Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia pada 2014. Pada 2021, Bank Syariah Mandiri digabung ke Bank BRI Syariah membentuk Bank Syariah Indonesia, bagian dari konsolidasi bank syariah milik BUMN.
Struktur kepemilikan bank ini berubah signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada Juni 2024, Bank Mandiri menjual 60% saham Mandiri Inhealth ke IFG Life senilai Rp1,71 triliun. Maret 2025, pemerintah mengalihkan mayoritas saham perseroan ke lembaga yang kemudian bernama Danantara Investment Management, dan pada 30 Juni 2025 kantor pusat bank pindah dari Plaza Mandiri ke Menara Mandiri di Jalan Jenderal Sudirman setelah Plaza Mandiri diubah jadi kantor pusat Danantara. Pada 6 Januari 2026, sebanyak 485,33 juta saham Seri B atau 0,52% dialihkan dari Danantara Asset Management ke Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) menjadi saham Seri A Dwiwarna, sesuai implementasi UU Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN. Pengalihan ini membuat porsi Danantara Asset Management turun menjadi 51,48%, tanpa mengubah total porsi kepemilikan negara secara keseluruhan.
Pemegang saham dan manajemen
Berdasarkan laporan registrasi pemegang efek periode September 2026 yang dikutip stockwatch.id, free float BMRI tercatat 37,31%, setara 34,47 miliar lembar dari total 92,40 miliar lembar saham beredar. Angka ini jauh di atas syarat minimum Peraturan Bursa Nomor I-A untuk Papan Utama, yakni 50 juta lembar dan minimal 15% dari total saham tercatat.
Pemegang saham dengan porsi di atas 5% adalah PT Danantara Asset Management dengan 48,05 miliar lembar (51,48%), lalu Indonesia Investment Authority (INA) dengan 7,47 miliar lembar (8,00%). Badan Pengaturan BUMN tercatat sebagai pemegang saham pengendali lewat 485,33 juta lembar saham Seri A Dwiwarna, setara 0,52%.
Jumlah investor pemegang Single Investor Identification (SID) di saham ini bertambah 9.886 pemodal dalam sebulan, sehingga totalnya mencapai 395.669 pihak per laporan tersebut, jauh di atas syarat minimum BEI sebanyak 300 pihak. Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menyatakan dalam keterbukaan informasi bahwa "semua informasi dalam LBRE telah dimuat secara lengkap dan benar, tidak mengandung informasi atau fakta material yang tidak benar, dan tidak menghilangkan informasi atau fakta material."
Di jajaran manajemen, Direktur Utama Riduan tercatat sebagai pemilik manfaat akhir (UBO) dengan 14,59 juta lembar saham secara langsung. Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen Zulkifli Zaini memegang 22,85 juta lembar, kepemilikan individu terbesar di jajaran pengawas. Secara kumulatif, seluruh direksi dan dewan komisaris menguasai 56,12 juta lembar atau 0,0601% dari modal ditempatkan dan disetor.
Kinerja keuangan terbaru
Sumber yang kami cek tidak memuat angka pendapatan atau laba bersih Bank Mandiri untuk periode terbaru secara spesifik. Yang tersedia adalah rasio valuasi pasar: menurut data Stockbit yang dikutip investor.id, price to book value (PBV) BMRI berada di 1,31 kali, di bawah -1 standar deviasi rata-rata PBV tiga tahun terakhir yang sebesar 1,47 kali. Price earning ratio (PER) tercatat 5,98 kali, juga di bawah -1 standar deviasi rata-rata PER tiga tahun sebesar 7,31 kali.
Rasio PBV dan PER di bawah rata-rata historis biasanya diartikan pasar sedang menghargai saham ini lebih murah dibanding valuasi rata-ratanya tiga tahun terakhir. Untuk angka pendapatan, laba bersih, dan pertumbuhan kredit yang lebih lengkap dan terverifikasi, sebaiknya cek laporan keuangan resmi Bank Mandiri di idx.co.id atau situs investor relations perseroan.
Dividen
Sumber yang kami cek tidak mencantumkan angka dividen per saham atau dividend payout ratio terbaru Bank Mandiri. Satu petunjuk kualitatif datang dari Andry Hakim, investor muda sekaligus founder dan CIO Hakimson.id. Menurut laporan investor.id, keputusannya menempatkan dana dalam jumlah besar di BMRI didorong potensi dividen sekaligus strategi pendanaan lewat transaksi repurchase agreement (repo). Untuk jadwal dan nilai dividen resmi, pembaca disarankan mengecek pengumuman korporasi Bank Mandiri atau laporan keuangan resminya di idx.co.id.
Pergerakan harga saham BMRI
Per 14 Oktober 2026, BMRI diperdagangkan di Rp3.980 per lembar. Sehari sebelumnya, 13 Oktober 2026, saham ini ditutup di Rp3.990, turun 0,50%, dengan volume transaksi 110,24 juta saham, frekuensi 33.788 kali, dan nilai transaksi Rp437,64 miliar, menurut data yang dikutip investor.id.
Posisi harga saat ini relatif dekat dengan batas bawah rentang 52 minggu, yakni Rp3.650 hingga Rp5.375. Dalam tiga periode yang dipantau, saham ini masih mencatat kinerja negatif: turun 8,3% dalam sebulan, 5,2% dalam tiga bulan, dan 2,7% dalam setahun terakhir. Rata-rata volume transaksi harian selama tiga bulan terakhir tercatat 127,76 juta lembar, menandakan saham ini termasuk salah satu yang paling aktif diperdagangkan di BEI.
Menariknya, data aliran dana menunjukkan dua arah berlawanan. Investor asing mencatat net sell Rp120,07 miliar dalam sebulan terakhir, sementara investor domestik justru membukukan net buy Rp2,95 triliun di periode yang sama, tertinggi di antara seluruh saham lain menurut data Stockbit Sekuritas yang dikutip investor.id. Secara periode sebulan, harga saham tercatat turun 8,49% berdasarkan perhitungan investor.id, sedikit berbeda dari angka -8,3% versi data Yahoo Finance karena perbedaan hari acuan perhitungan.
Berita dan katalis terbaru
Beberapa perkembangan terbaru yang relevan untuk pemegang saham BMRI:
- Risiko kredit disorot - katadata.co.id pada 14 Oktober 2026 menurunkan laporan berjudul "Risiko Kredit Bayangi Bank Mandiri (BMRI), Pembiayaan untuk Haji Isam Disorot," yang menyoroti pembiayaan bank ini ke pengusaha Haji Isam sebagai salah satu isu risiko kredit terkini.
- Net buy domestik tertinggi - investor.id pada 14 Oktober 2026 melaporkan BMRI mencatat net buy domestik Rp2,95 triliun dalam sebulan, tertinggi di antara saham-saham lain, di tengah tekanan jual investor asing dan koreksi harga 8,49% di periode yang sama.
- Struktur kepemilikan dan free float - stockwatch.id pada 11 Oktober 2026 merinci laporan registrasi pemegang efek September 2026, menunjukkan free float 37,31% dan jumlah investor SID yang terus bertambah hingga 395.669 pihak.
- Pandangan teknikal analis pihak ketiga - ntvnews.id pada 14 Oktober 2026 mengutip riset MNC Sekuritas yang mencatat BMRI terkoreksi 0,50% ke Rp3.990 dengan volume yang mengecil, dan memperkirakan posisi saham ini sedang berada dalam fase koreksi menurut analisis gelombang Elliott mereka. Perlu digarisbawahi, ini adalah pandangan riset sekuritas lain yang dikutip media, bukan rekomendasi dari Queenby News.
Pesaing di BEI
Di sektor perbankan BUMN dan bank besar, BMRI punya beberapa pesaing utama:
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia) - bank BUMN dengan basis bisnis mikro dan UMKM yang jauh lebih besar dibanding fokus korporat Bank Mandiri.
- BBCA (Bank Central Asia) - bank swasta terbesar di Indonesia, dikenal kuat di segmen transaksi perbankan dan nasabah ritel menengah ke atas.
- BBNI (Bank Negara Indonesia) - bank BUMN lain dengan eksposur signifikan di segmen korporat dan internasional, sering dibandingkan langsung dengan Bank Mandiri.
Risiko
Beberapa risiko yang relevan dipantau investor saham BMRI:
- Risiko kredit dan konsentrasi debitur - laporan katadata.co.id menyoroti pembiayaan bank ke Haji Isam sebagai isu risiko kredit terkini, relevan bagi bank dengan basis nasabah korporat besar seperti Bank Mandiri.
- Risiko sektor perbankan - kinerja bank secara umum sensitif terhadap suku bunga acuan, kualitas aset, dan kondisi makroekonomi, meski sumber yang kami cek tidak memuat angka rasio kredit bermasalah (NPL) terbaru.
- Risiko regulasi dan tata kelola BUMN - status Bank Mandiri sebagai bank BUMN berarti kebijakan pemerintah dan restrukturisasi kepemilikan, seperti pengalihan saham ke BP BUMN pada Januari 2026, bisa memengaruhi strategi dan arah perusahaan ke depan.
- Konsentrasi kepemilikan - meski free float 37,31% tergolong di atas syarat minimum bursa, mayoritas saham tetap dikuasai negara lewat Danantara Asset Management (51,48%), INA (8,00%), dan BP BUMN (0,52%), sehingga porsi saham yang bebas diperdagangkan publik relatif terbatas dibanding total saham beredar.
- Risiko harga dan sentimen pasar - harga saham saat ini berada dekat batas bawah rentang 52 minggu dan masih mencatat koreksi di tiga periode yang dipantau, sementara investor asing mencatat net sell berkelanjutan meski diimbangi net buy domestik yang kuat.
- Risiko valuasi - PBV dan PER yang berada di bawah rata-rata historis tiga tahun bisa dibaca sebagai valuasi yang relatif murah, tapi juga bisa mencerminkan sentimen pasar yang masih tertekan terhadap prospek bank ini.
Apa artinya buat investor
Beberapa titik data dari sumber yang kami kumpulkan bisa dijadikan acuan pemantauan, bukan sinyal beli atau jual:
- Level Rp3.650 (batas bawah rentang 52 minggu) dan Rp5.375 (batas atas) berguna untuk melihat posisi harga saat ini relatif terhadap pergerakan setahun terakhir.
- Arus dana asing dan domestik layak terus dipantau. Selisih antara net sell asing Rp120,07 miliar dan net buy domestik Rp2,95 triliun dalam sebulan terakhir menunjukkan ada tarik-menarik sentimen yang belum tentu searah.
- Rasio PBV 1,31 kali dan PER 5,98 kali, keduanya di bawah rata-rata tiga tahun, bisa dibandingkan lagi begitu laporan keuangan resmi terbaru keluar, untuk melihat apakah valuasi murah ini sejalan dengan fundamental atau sekadar cerminan sentimen jangka pendek.
- Perkembangan lanjutan soal pembiayaan ke Haji Isam yang disoroti katadata.co.id layak diikuti, karena ini menyangkut kualitas kredit korporat bank ini.
- Jadwal rilis laporan keuangan kuartalan Bank Mandiri di idx.co.id penting dipantau untuk mendapat angka pendapatan dan laba bersih yang belum tersedia di sumber-sumber yang kami cek kali ini.
Cara beli saham BMRI
Satu lot saham BMRI setara 100 lembar. Dengan harga Rp3.980 per lembar per 14 Oktober 2026, nilai satu lot sekitar Rp398.000, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.
Untuk membeli, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di BEI. Setelah rekening aktif dan dana disetor, order beli BMRI bisa dilakukan lewat aplikasi trading online sekuritas tersebut dengan memasukkan kode BMRI, jumlah lot, dan harga yang diinginkan.
FAQ
Apakah BMRI rutin membagikan dividen?
Sumber yang kami cek tidak menyebutkan angka dividen atau rasio payout terbaru. Salah satu investor yang dikutip investor.id menyebut potensi dividen sebagai salah satu alasan masuk ke saham ini, tapi untuk detail resmi sebaiknya cek laporan keuangan dan pengumuman dividen di idx.co.id.
Berapa harga 1 lot saham BMRI?
Per 14 Oktober 2026, harga BMRI Rp3.980 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) senilai Rp398.000.
Apakah BMRI masuk indeks LQ45?
Belum ada di sumber yang kami cek. Untuk status keanggotaan indeks terbaru, bisa dicek langsung di situs resmi BEI.
Siapa pemegang saham terbesar BMRI?
PT Danantara Asset Management menjadi pemegang saham terbesar dengan 48,05 miliar lembar atau 51,48%, disusul Indonesia Investment Authority (INA) dengan 8,00%, menurut laporan registrasi pemegang efek per September 2026 yang dikutip stockwatch.id.
Apa bedanya BMRI dengan BBRI?
BMRI secara historis dikenal kuat di segmen corporate banking dan nasabah korporasi besar, sementara BBRI (Bank Rakyat Indonesia) punya basis bisnis mikro dan UMKM yang jauh lebih besar.
Kenapa saham BMRI melemah dalam sebulan terakhir?
Menurut investor.id, investor asing mencatat net sell Rp120,07 miliar dalam sebulan terakhir hingga 13 Oktober 2026, sementara harga saham turun 8,49% di periode yang sama meski investor domestik justru mencatat net buy tertinggi di pasar.
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham BMRI.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · Bank Mandiri
- katadata.co.id · Risiko Kredit Bayangi Bank Mandiri (BMRI), Pembiayaan untuk Haji Isam Disorot
- investor.id · Suratan Saham Bank Mandiri (BMRI)
- stockwatch.id · Mengintip Peta Saham BMRI: Free Float Capai 37,31%, Investor Melejit Dekati 400 Ribu
- ntvnews.id · Proyeksi IHSG Rabu 14 Oktober 2026, Cek Rekomendasi Saham BMRI dan MIDI
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.