Saham BBNI: Profil Bank Negara Indonesia, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
BBNI turun 10,3% dalam setahun ke Rp3.410, meski kredit tumbuh 27,1% YoY per Agustus 2026. Simak profil lengkap bisnis dan risikonya.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
BBNI adalah kode saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, bank badan usaha milik negara yang bergerak di bisnis perbankan konsumen, korporasi, dan komersial. Bank ini salah satu dari bank-bank besar milik negara di Indonesia dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 1996. Pemerintah tetap jadi pemegang saham mayoritas, kini lewat Danantara Asset Management.
Ringkasan saham BBNI
Per 15 Oktober 2026.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Kode | BBNI |
| Nama resmi | PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk |
| Sektor/subsektor | Keuangan, perbankan konsumen dan korporasi (BUMN) |
| Tahun IPO | 1996 (Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya) |
| Harga terakhir | Rp3.410 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp341.000 (100 lembar) |
| Rentang 52 minggu | Rp2.990 - Rp4.730 |
| Kinerja 1 bulan | -9,1% |
| Kinerja 3 bulan | -1,4% |
| Kinerja 1 tahun | -10,3% |
| Indeks | LQ45 (menurut Fortune Indonesia, 24 September 2026) |
Bisnis Bank Negara Indonesia
BNI menjalankan bisnis perbankan konsumen, korporasi, komersial, dan treasury. Menurut Wikipedia, hingga 2025 bank ini mengoperasikan 197 kantor cabang, 1.579 kantor cabang pembantu, dan 13.382 mesin ATM serta CRM di seluruh Indonesia, ditambah sembilan ATM di luar negeri.
Jaringan internasionalnya termasuk enam cabang di New York, London, Seoul, Tokyo, Hong Kong, dan Singapura, satu sub-cabang di Osaka, serta dua kantor perwakilan di Amsterdam dan Sydney. Jaringan ini jadi salah satu pembeda BNI dibanding bank BUMN lain, karena fokus historisnya yang kuat di pembiayaan perdagangan dan korporasi lintas negara.
Di luar bisnis inti perbankan, BNI punya beberapa anak usaha. Hibank, hasil akuisisi dan rebranding Bank Mayora pada 2022-2023, diarahkan jadi bank digital untuk segmen UMKM. BNI Ventures menangani bisnis modal ventura. BNI Life, perusahaan asuransi jiwa, sebagian sahamnya dipegang Sumitomo Life Insurance sejak 2013. BNI Sekuritas juga mendirikan anak usaha di Singapura untuk memperluas bisnis sekuritas lintas batas.
Pada Agustus 2026, BNI meluncurkan produk tabungan anak dan remaja bernama Wondrz, bagian dari upaya menjangkau nasabah generasi muda lebih dini.
Sejarah singkat dan IPO
BNI didirikan pemerintah Indonesia pada 5 Juli 1946 dengan nama Bank Negara Indonesia, awalnya berfungsi ganda sebagai bank sentral sekaligus bank umum. Setelah Konferensi Meja Bundar 1949, fungsi bank sentral dicabut dan diserahkan ke De Javasche Bank, sehingga BNI murni jadi bank umum. Setahun kemudian, BNI ditetapkan sebagai bank devisa dan membuka cabang luar negeri pertamanya di Singapura.
Perjalanan BNI sempat berliku. Pada 1965, bank ini digabung ke Bank Indonesia sebagai bagian dari konsep bank berjuang, lalu dipisahkan kembali jadi entitas tersendiri pada 1968 dengan nama Bank Negara Indonesia 1946. Pada 1992, statusnya diubah jadi persero dengan nama PT Bank Negara Indonesia (Persero), nama yang dipertahankan hingga sekarang.
BNI resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1996, menjadikannya salah satu bank BUMN pertama yang IPO di pasar modal Indonesia. Pada 2009, unit usaha syariahnya dipisah menjadi BNI Syariah, yang kemudian pada 2021 digabung ke BRI Syariah sebagai bagian dari konsolidasi bank syariah milik negara menjadi Bank Syariah Indonesia.
Restrukturisasi kepemilikan terbaru terjadi pada Maret 2025, saat pemerintah menyerahkan mayoritas saham BNI ke Biro Klasifikasi Indonesia sebagai bagian pembentukan holding operasional Danantara. Lalu pada 6 Januari 2026, lewat implementasi UU Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN, BNI mengalihkan 223,78 juta saham Seri B atau setara 0,6% yang sebelumnya dipegang Danantara Asset Management kepada Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), dijadikan saham Seri A Dwiwarna atau saham khusus pemerintah.
Pemegang saham dan manajemen
Setelah pengalihan Januari 2026 tersebut, porsi kepemilikan Danantara Asset Management di BBNI berkurang menjadi 59,4%, meski komposisi kepemilikan negara secara keseluruhan tidak berubah karena saham yang dialihkan menjadi saham Dwiwarna milik BP BUMN, bukan dilepas ke pihak lain. Persentase kepemilikan publik dan pihak lain di luar itu belum ada di sumber yang kami cek.
Susunan dewan komisaris saat ini terdiri dari Omar Sjawaldy Anwar sebagai Komisaris Utama/Independen, Tedi Bharata sebagai Wakil Komisaris Utama, Suminto dan Donny Hutabarat sebagai Komisaris, serta Vera Febyanthy dan Didik J. Rachbini sebagai Komisaris Independen.
Di jajaran direksi, Putrama Wahju Setyawan menjabat Direktur Utama, didampingi Alexandra Askandar sebagai Wakil Direktur Utama. Direktur lain mencakup Agung Prabowo (Corporate Banking), Abu Santosa Sudrajat (Treasury & International Banking), Eko Setyo Nugroho (Kelembagaan), M. Iqbal (Commercial Banking), Ronny Venir (Operations), Munadi Herlambang (Human Capital dan Compliance), H. Paolo Kartadjoemena (Finance & Strategy), Corina (Consumer Banking), David Pirzada (Risk Management), Toto Prasetio (IT), dan Risan Kaslan (Network & Retail Funding).
Kinerja keuangan terbaru
Menurut riset Maybank Sekuritas Indonesia tanggal 21 September 2026 yang dilaporkan Kontan, laba bersih BNI (bank-only) hingga Agustus 2026 mencapai Rp14,3 triliun, tumbuh 6,9% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 14,3% YoY dan pendapatan nonbunga yang naik 11,1% YoY.
Namun, biaya pencadangan melonjak 26,9% YoY, yang menahan laju pertumbuhan laba bersih agar tidak secepat pertumbuhan pendapatan. Secara bulanan, performanya justru membaik: laba bersih Agustus 2026 naik 11,1% dibanding Juli 2026 (MoM) dan 17,4% YoY, terutama karena penurunan beban pencadangan.
Net interest margin (NIM), indikator profitabilitas inti bank dari selisih bunga kredit dan simpanan, tercatat 3,1% pada Agustus 2026, turun 5 basis poin dibanding bulan sebelumnya dan turun 17 basis poin dibanding setahun lalu. Ini jadi salah satu tantangan utama yang disorot analis.
Dari sisi penyaluran kredit, BNI mencatat pertumbuhan agresif: kredit bank-only mencapai Rp977 triliun pada Agustus 2026, melonjak 27,1% YoY dan naik 0,7% dibanding Juli 2026. Pertumbuhan ini jadi salah satu yang terkuat di sektor perbankan, didorong momentum kuat di wholesale banking, meski Maybank Sekuritas mencatat sebagian pertumbuhan itu ditopang pencairan kredit besar terkait Agrinas.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) bank-only mencapai Rp1.125 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 29,4% YoY, lebih cepat dari pertumbuhan kredit. Ini membuat loan to deposit ratio (LDR), rasio yang menunjukkan seberapa besar dana pihak ketiga disalurkan jadi kredit, membaik ke 86,9% dari 88,4% setahun sebelumnya.
Angka-angka di atas berasal dari data manajerial bank-only yang dikutip analis per Agustus 2026, bukan laporan keuangan konsolidasian resmi kuartalan. Untuk angka laba, aset, dan rasio keuangan versi laporan keuangan resmi dan teraudit, sebaiknya cek langsung di idx.co.id.
Dividen
Data kebijakan dan riwayat dividen BBNI belum ada di sumber yang kami cek untuk artikel ini. Pembaca yang ingin tahu nominal dividen per saham, rasio payout, atau jadwal cum date terbaru sebaiknya memeriksa keterbukaan informasi dan hasil RUPS di idx.co.id atau situs resmi BNI.
Pergerakan harga saham BBNI
Per 15 Oktober 2026, BBNI diperdagangkan di Rp3.410 per lembar. Posisi ini ada di kisaran bawah-tengah dari rentang 52 minggunya yang membentang dari Rp2.990 hingga Rp4.730, jauh dari level tertinggi tahunan.
Dalam sebulan terakhir, saham ini turun 9,1%. Dalam tiga bulan, koreksinya lebih moderat di 1,4%, menandakan sebagian besar penurunan terjadi belakangan. Secara setahun penuh, BBNI turun 10,3%.
Rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir tercatat 37,24 juta lembar, angka yang menunjukkan saham ini masih cukup aktif diperdagangkan di papan utama BEI.
Berita dan katalis terbaru
Maybank Sekuritas Indonesia, lewat riset analis Jeffrosenberg Chenlim tertanggal 21 September 2026 yang dikutip Kontan, mempertahankan rekomendasi buy untuk BBNI dengan target harga Rp4.800 per saham. Target itu didasarkan pada valuasi 1,0 kali proyeksi price to book value (P/BV) 2026.
Jeffrosenberg menyebut BBNI diperdagangkan di valuasi 0,8 kali P/BV, lebih murah dibanding rata-rata bank BUMN lain yang sekitar 1,4 kali. "Kami terus melihat prospek laba BBNI secara positif, didukung pertumbuhan kredit yang sehat, kualitas aset yang terkelola, dan valuasi yang tidak mahal," tulisnya dalam riset tersebut. Maybank Sekuritas menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit BBNI 2026 menjadi 9% dari sebelumnya 8%, yang turut mendorong kenaikan sekitar 1% pada proyeksi laba bersih tahun ini. Dua risiko utama yang mereka soroti adalah tekanan margin dan potensi memburuknya kualitas aset.
Fortune Indonesia, dalam artikel 24 September 2026, memasukkan BBNI ke daftar lima saham LQ45 yang dinilai undervalued berdasarkan penyaringan rasio PER di bawah rata-rata pasar atau sektor serta PBV di bawah 1 kali. Saham lain dalam daftar itu adalah AADI, ADRO, ASII, dan BBTN.
Media bisnisia.id pada 8 Oktober 2026 menerbitkan artikel berjudul "Saham Big Banks Tertekan, Valuasi BBNI dan BBCA Makin Murah", yang mengindikasikan tekanan harga di saham-saham bank besar turut membuat valuasi BBNI semakin murah pada periode tersebut.
Sementara itu, Liputan6 pada 1 Oktober 2026 melaporkan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi usai merosot 0,83% disertai aksi jual bersih asing Rp1,56 triliun pada 30 September 2026, dengan saham-saham perbankan besar termasuk di antara yang paling banyak dilepas asing. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyebut IHSG berpotensi menguji resistance di 6.100 jika rebound terjadi, dengan level support di kisaran 6.000-6.050. BBNI termasuk dalam daftar saham yang dibahas analis pada hari perdagangan tersebut.
Pesaing di BEI
BBNI bersaing langsung dengan sesama bank BUMN dan bank swasta besar lain di BEI:
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia): bank BUMN dengan fokus kuat di segmen mikro, kecil, dan UMKM, jaringan cabang terluas hingga ke pelosok.
- BMRI (Bank Mandiri): bank dengan aset terbesar di antara bank BUMN, kuat di segmen korporasi, wholesale banking, dan institusi besar.
- BBCA (Bank Central Asia): bank swasta terbesar di Indonesia, bukan BUMN, dikenal kuat di segmen transaksi perbankan, tabungan, dan nasabah ritel-menengah atas.
Risiko
- Risiko sektor dan suku bunga: NIM BBNI tertekan ke 3,1% pada Agustus 2026, turun 17 basis poin YoY, mencerminkan tekanan margin akibat kenaikan biaya dana yang dihadapi hampir semua bank.
- Risiko kualitas aset: biaya pencadangan melonjak 26,9% YoY hingga Agustus 2026, indikasi bank harus lebih berhati-hati menyisihkan dana untuk potensi kredit bermasalah.
- Risiko konsentrasi pertumbuhan kredit: sebagian pertumbuhan kredit 27,1% YoY ditopang pencairan besar terkait Agrinas, menurut catatan Maybank Sekuritas, sehingga ada risiko pertumbuhan melandai begitu basis pembanding makin tinggi.
- Risiko regulasi dan restrukturisasi BUMN: BBNI mengalami perubahan struktur kepemilikan saham lewat UU Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN dan pembentukan Danantara serta BP BUMN, yang bisa membawa perubahan tata kelola di masa depan.
- Risiko valuasi dan sentimen pasar: meski valuasi 0,8 kali P/BV disebut analis sebagai murah dibanding bank BUMN lain, harga saham tetap turun 10,3% dalam setahun, menunjukkan sentimen pasar terhadap sektor perbankan secara umum masih tertekan termasuk akibat aksi jual bersih asing di saham-saham perbankan besar.
- Risiko likuiditas saham: volume rata-rata 37,24 juta lembar per hari tergolong aktif, tapi pergerakan harga tetap bisa fluktuatif mengikuti sentimen IHSG secara keseluruhan.
Apa artinya buat investor
Beberapa hal konkret yang bisa dipantau dari BBNI ke depan, bukan sebagai sinyal beli atau jual:
- Posisi harga dalam rentang 52 minggu: Rp3.410 saat ini relatif dekat ke bagian bawah rentang Rp2.990-Rp4.730. Memantau apakah harga mendekati Rp2.990 atau justru bergerak kembali ke area tengah rentang bisa jadi referensi untuk menilai sentimen pasar terhadap saham ini.
- Data kredit dan NIM bulanan: rilis data operasional bank-only, seperti kredit Rp977 triliun dan NIM 3,1% pada Agustus 2026, jadi indikator untuk melihat apakah pertumbuhan kredit 27,1% YoY mulai melandai seperti yang diperkirakan Maybank Sekuritas, atau justru masih kuat.
- Laporan keuangan resmi di idx.co.id: hasil kuartal III 2026 dan laporan audit tahunan akan mengonfirmasi angka manajerial yang selama ini dikutip dari riset sekuritas, termasuk rincian pencadangan dan rasio LDR.
- Sentimen sektor perbankan BUMN: pergerakan BBNI cenderung ikut terseret sentimen saham bank besar lain seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, termasuk pola aksi jual atau beli bersih asing di IHSG seperti yang tercatat pada akhir September 2026.
- Target dan valuasi dari riset pihak ketiga: Maybank Sekuritas per 21 September 2026 mematok target harga Rp4.800 dengan asumsi P/BV 1,0 kali, sementara harga pasar saat itu mencerminkan valuasi sekitar 0,8 kali. Ini angka riset sekuritas, bukan patokan pasti, tapi bisa jadi salah satu rujukan untuk memahami cara analis menilai saham ini.
- Jadwal RUPS dan pengumuman dividen: karena data dividen tidak tersedia di sumber yang kami cek, investor yang mengincar potensi dividen sebaiknya memantau langsung pengumuman resmi di idx.co.id.
Cara beli saham BBNI
Satu lot saham BBNI terdiri dari 100 lembar, dengan nilai sekitar Rp341.000 berdasarkan harga Rp3.410 per lembar per 15 Oktober 2026, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas. Untuk membeli saham ini, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta terdaftar sebagai anggota bursa di BEI. Setelah rekening aktif dan dana disetor, order beli BBNI bisa dipasang lewat aplikasi trading sekuritas tersebut sesuai harga pasar yang berlaku.
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham BBNI.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · Bank Negara Indonesia
- bisnisia.id · Saham Big Banks Tertekan, Valuasi BBNI dan BBCA Makin Murah
- liputan6.com · Rekomendasi Saham Analis 1 Oktober 2026: BBNI, JARR, TEBE, BFIN, ELTY, ICBP
- keuangan.kontan.co.id · Kredit BNI (BBNI) Tumbuh 27,1%, Ini Prospek Saham Saham Menurut Maybank Sekuritas
- fortuneidn.com · Daftar Saham LQ45 yang Undervalued, Ini 5 Emitennya
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.