Saham TLKM: Profil Telkom Indonesia, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya
TLKM, saham BUMN telekomunikasi terbesar di BEI, turun 27,6% dalam setahun ke Rp2.230 meski laba kuartal II-2026 naik 28% yoy.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan
TLKM adalah kode saham Telkom Indonesia, BUMN telekomunikasi terbesar di Indonesia yang bisnisnya mencakup seluler lewat Telkomsel, internet rumah lewat IndiHome, menara telekomunikasi lewat Mitratel, hingga data center dan kabel serat optik bawah laut. Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 1995 dan sahamnya banyak dipantau karena jadi salah satu motor penggerak IHSG.
Ringkasan saham TLKM
Per 16 Oktober 2026.
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Kode | TLKM |
| Nama resmi | Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk |
| Sektor/subsektor | Teknologi informasi dan komunikasi (menurut Wikipedia); klasifikasi subsektor resmi BEI belum ada di sumber yang kami cek |
| Tahun IPO | 1995 (melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya) |
| Harga terakhir | Rp2.230 per lembar |
| Harga 1 lot | Rp223.000 (100 lembar) |
| Rentang 52 minggu | Rp2.170 - Rp3.990 |
| Kinerja 1 bulan | -16,2% |
| Kinerja 3 bulan | -11,9% |
| Kinerja 1 tahun | -27,6% |
| Indeks | Belum ada di sumber yang kami cek |
Rata-rata volume transaksi harian dalam 3 bulan terakhir tercatat 115,55 juta lembar, menurut data Yahoo Finance.
Bisnis Telkom
Telkom Indonesia adalah BUMN yang jadi penyedia layanan telekomunikasi pertama di Indonesia. Kantor pusat resminya di Bandung, sedangkan kantor pusat operasionalnya di Jakarta, menurut Wikipedia. Bisnis intinya dijalankan lewat sejumlah anak usaha: Telkomsel untuk layanan seluler, IndiHome untuk paket internet, telepon, dan TV rumah, serta Mitratel yang mengelola menara telekomunikasi dan sudah melantai sendiri di BEI sejak akhir 2021.
Selain itu, Telkom juga merambah bisnis data center lewat proyek Hyperscale Data Center di Cikarang dan Batam, serta infrastruktur kabel serat optik bawah laut lewat Telin, termasuk konsorsium SEA-ME-WE 6. Pada Agustus 2024, pengelolaan aset serat optik dialihkan ke entitas bernama Telkom Infrastruktur Indonesia. Sampai akhir 2024, perusahaan ini punya 1.387 gerai Plasa Telkom yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendukung layanan ke pelanggan.
Sejarah singkat dan IPO
Akar bisnis Telkom bisa ditarik sampai 1856 lewat perusahaan bernama Telecomunicatie Maatscappiij pada era kolonial Belanda, yang kemudian diakuisisi pemerintah Belanda dan berubah jadi Post Telegraph Telekomunicatie Dienst. Pada 6 Juli 1965, pemerintah Indonesia memecah PN Pos dan Telekomunikasi jadi dua entitas terpisah, salah satunya PN Telekomunikasi atau PERUMTEL yang jadi cikal bakal Telkom. Statusnya berubah jadi Perum pada era yang sama, lalu jadi Persero pada 1991 dengan mulai memakai merek dagang "Telkom".
Tahun 1995 jadi titik penting ganda: Telkom mendirikan Telkomsel untuk bisnis seluler, sekaligus resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Saham Telkom juga terdaftar di New York Stock Exchange dan London Stock Exchange, serta ditawarkan (tanpa listing) di Bursa Efek Tokyo. Perusahaan menarik diri dari LSE dan Tokyo pada 2014.
Sederet tonggak teknologi menyusul: peluncuran satelit Telkom-1 (1999), akuisisi 35% saham Telkomsel dari Indosat (2001), satelit Telkom-2 (2005), layanan 4G LTE pertama di Indonesia (2014), peluncuran IndiHome (2015), hingga layanan 5G pertama lewat Telkomsel pada Mei 2021. Pada akhir 2020, nama resmi perusahaan disingkat jadi "PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk" tanpa mengubah nama badan hukum aslinya.
Pemegang saham dan manajemen
Struktur kepemilikan TLKM berubah signifikan dalam dua tahun terakhir seiring pembentukan Danantara. Per 24 Februari 2025, pemerintah mengalihkan kepemilikan sahamnya ke Biro Klasifikasi Indonesia yang kemudian berganti nama jadi Danantara Asset Management, membuat porsi kepemilikan negara lewat entitas ini jadi 52,09% dan publik free-float 47,91%.
Perubahan berikutnya terjadi pada 6 Januari 2026, menyusul implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN. Sebanyak 516,02 juta saham Seri B atau setara 0,52% dialihkan dari Danantara Asset Management ke Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), dan dijadikan saham Seri A Dwiwarna. Hasilnya, per 16 Oktober 2026 komposisi kepemilikan TLKM adalah Danantara Asset Management 51,57%, BP BUMN 0,52%, dan publik free-float sekitar 47,9%. Pengalihan ini tidak mengubah total porsi kepemilikan negara Republik Indonesia secara keseluruhan.
Untuk susunan direksi dan komisaris terkini, nama-nama pejabat belum tercantum secara spesifik di sumber yang kami cek. Pembaca yang butuh detail ini disarankan mengecek keterbukaan informasi resmi Telkom di idx.co.id.
Kinerja keuangan terbaru
Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia yang dikutip investor.id pada 14 September 2026, laba bersih TLKM pada kuartal II-2026 melonjak 28% secara tahunan (yoy) menjadi Rp6,3 triliun. Analis Sukarno Alatas menyebut akselerasi ini ditopang biaya keuangan yang lebih rendah serta penguatan operating leverage, yaitu kemampuan perusahaan menaikkan laba seiring pertumbuhan pendapatan lewat struktur biaya yang lebih efisien.
Pendapatan kuartal II-2026 tercatat Rp38,7 triliun, naik 6% yoy dan 4% secara kuartalan (qoq). EBITDA tumbuh 11% baik yoy maupun qoq menjadi Rp19,5 triliun. Sepanjang semester I-2026, pendapatan TLKM naik 4% yoy menjadi Rp75,9 triliun, dengan EBITDA naik 3% menjadi Rp37,1 triliun dan margin EBITDA 48,8%, sedikit turun dari 49,4% pada periode sebelumnya.
Pendorong utama pertumbuhan pendapatan adalah segmen data, internet, dan layanan teknologi informasi yang naik 13%. Segmen ini menutupi penurunan di lini bisnis legacy: pendapatan IndiHome turun 3%, layanan SMS serta suara dan seluler anjlok 29%, interkoneksi turun 10%, dan layanan jaringan serta telekomunikasi lainnya turun 6%.
Dari sisi pelanggan, jumlah pelanggan seluler turun 3,1% menjadi 153,5 juta, tapi ARPU seluler justru naik 9,1% menjadi Rp45.000, menandakan kemampuan monetisasi pelanggan yang membaik menurut analis Kiwoom. Di sisi lain, jumlah pelanggan IndiHome segmen business-to-consumer (B2C) turun 5,4% menjadi 9,5 juta pelanggan.
Untuk angka laba bersih semester I-2026 secara penuh, sumber yang kami cek terpotong sebelum menyebutkan nominalnya. Pembaca yang butuh laporan keuangan lengkap dan rasio-rasio lain sebaiknya mengecek laporan keuangan resmi Telkom di idx.co.id.
Dividen
Sumber yang kami cek untuk profil ini tidak menyebutkan nominal, rasio payout, atau jadwal pembagian dividen TLKM. Mengingat Telkom adalah BUMN besar yang biasanya rutin membagikan dividen setiap tahun, pembaca yang butuh data pasti soal dividen per saham dan tanggal cum/ex dividen disarankan mengecek laporan tahunan dan keterbukaan informasi resmi di idx.co.id.
Pergerakan harga saham TLKM
Per 16 Oktober 2026, TLKM diperdagangkan di Rp2.230 per lembar. Posisi ini jauh lebih dekat ke batas bawah rentang 52 minggu di Rp2.170 dibanding batas atas di Rp3.990, artinya saham ini sedang berada di area terendah dalam setahun terakhir.
Tren jangka pendek dan menengah sama-sama negatif: turun 16,2% dalam sebulan terakhir, 11,9% dalam tiga bulan, dan 27,6% dalam setahun. Penurunan beruntun di tiga rentang waktu ini menunjukkan tekanan jual yang berlangsung cukup lama, bukan koreksi sesaat. Meski begitu, ada momen penguatan jangka pendek: pada 9 Oktober 2026, TLKM melonjak 2,7% dan ikut menopang penguatan IHSG ke level 6.053 pada sesi pertama perdagangan, menurut laporan Kompas.com.
Sehari sebelum tanggal data profil ini, BNI Sekuritas mencatat IHSG ditutup naik 0,29% pada 14 Oktober 2026 tapi disertai aksi jual bersih asing Rp104 miliar, dengan saham-saham big cap seperti BBRI dan BMRI jadi yang paling banyak dilego asing, menurut laporan Liputan6.com 15 Oktober 2026. TLKM disebut masuk daftar saham yang dibahas analis pada hari itu, meski detail rekomendasi dan target harganya tidak tercantum lengkap di sumber yang kami cek.
Berita dan katalis terbaru
Beberapa perkembangan yang relevan dipantau investor TLKM belakangan ini:
- 9 Oktober 2026: TLKM melonjak 2,7% dan jadi salah satu saham yang menopang penguatan IHSG ke 6.053 pada sesi pertama, bersama AMMN, DSSA, dan BBRI, menurut Kompas.com.
- 14 September 2026: Kiwoom Sekuritas merevisi target harga TLKM setelah laba bersih kuartal II-2026 melonjak 28% yoy menjadi Rp6,3 triliun, didukung efisiensi biaya keuangan dan operating leverage yang membaik, menurut investor.id.
- 15 Oktober 2026: TLKM masuk daftar saham yang dibahas dalam rekomendasi analis harian di tengah IHSG yang diproyeksikan bergerak di kisaran 5.830-6.000 dan masih diwarnai aksi jual asing, menurut Liputan6.com.
- 2 Oktober 2026: Selular.id memuat artikel soal ukuran keberhasilan Direktur Utama Telkom yang tidak hanya dilihat dari pergerakan saham TLKM, meski isi lengkap artikel tidak sepenuhnya tersedia di sumber yang kami cek.
Secara struktural, perubahan kepemilikan ke skema Danantara dan BP BUMN yang dituntaskan 6 Januari 2026 juga jadi perkembangan penting karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan dividen dan tata kelola holding BUMN ke depan.
Pesaing di BEI
Di sektor telekomunikasi BEI, TLKM bersaing dengan dua operator seluler besar lain:
- ISAT (Indosat Ooredoo Hutchison): operator seluler hasil merger Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia, dimiliki mayoritas oleh konsorsium Ooredoo Group dan CK Hutchison, dengan fokus utama di layanan seluler dan data tanpa lini bisnis fixed broadband rumah sebesar IndiHome.
- EXCL (XL Axiata): operator seluler di bawah grup Axiata Malaysia, bersaing ketat dengan Telkomsel dan Indosat di segmen data seluler dan belakangan juga merambah fixed broadband lewat merger dengan Link Net.
- FREN (Smartfren Telecom): operator seluler yang lebih kecil dari sisi pangsa pasar, dikenal dengan strategi harga data yang agresif di segmen ritel.
Perbedaan utama TLKM dari ketiganya adalah skala bisnis yang jauh lebih terdiversifikasi: dari seluler lewat Telkomsel, internet rumah lewat IndiHome, menara lewat Mitratel, sampai data center dan infrastruktur kabel laut, dengan status BUMN yang membuatnya punya akses ke proyek infrastruktur pemerintah.
Apa artinya buat investor
Beberapa hal konkret yang bisa dipantau investor TLKM ke depan, tanpa perlu menebak arah harga:
- Level harga Rp2.170, batas bawah rentang 52 minggu, sebagai acuan apakah harga masih bertahan di area terendah setahun terakhir atau mulai bergerak menjauh dari level itu.
- Level harga Rp3.990, batas atas rentang 52 minggu, sebagai pembanding seberapa jauh harga saat ini dari titik tertinggi setahun terakhir.
- Rilis laporan keuangan kuartal III-2026 di idx.co.id, untuk melihat apakah tren kenaikan laba bersih 28% yoy di kuartal II-2026 berlanjut atau justru melambat.
- Data jumlah pelanggan seluler dan IndiHome tiap kuartal, karena penurunan pelanggan di kedua segmen ini sudah terlihat sejak semester I-2026 dan jadi indikator tekanan kompetisi.
- Arus jual atau beli asing di saham-saham big cap BEI, mengingat laporan BNI Sekuritas mencatat tekanan jual asing turut mewarnai pergerakan saham kapitalisasi besar belakangan ini.
- Perkembangan kebijakan Danantara Asset Management dan BP BUMN terhadap TLKM, termasuk kemungkinan perubahan arah dividen atau restrukturisasi holding BUMN telekomunikasi ke depan.
Risiko
Beberapa risiko konkret yang relevan dipantau untuk TLKM:
- Penurunan pelanggan di bisnis legacy. Jumlah pelanggan seluler turun 3,1% yoy dan pelanggan IndiHome B2C turun 5,4% pada semester I-2026, menandakan tekanan kompetisi di bisnis inti yang sudah matang.
- Ketergantungan pada segmen tertentu. Pertumbuhan pendapatan banyak ditopang segmen data, internet, dan TI yang naik 13%, sementara segmen SMS, suara, dan seluler legacy anjlok 29%. Kalau segmen pertumbuhan ini melambat, pendapatan total berisiko tertekan.
- Risiko tata kelola dan regulasi BUMN. Perubahan struktur kepemilikan lewat Danantara Asset Management dan BP BUMN yang baru rampung Januari 2026 membawa ketidakpastian soal arah kebijakan dividen dan strategi holding ke depan, karena ini perubahan regulasi yang masih relatif baru.
- Tekanan jual asing di saham big cap. Laporan BNI Sekuritas pada 14 Oktober 2026 mencatat aksi jual bersih asing Rp104 miliar di IHSG dengan saham big cap jadi sasaran utama, yang bisa ikut menekan saham-saham kapitalisasi besar seperti TLKM meski bukan jadi saham yang paling banyak dijual hari itu.
- Volatilitas harga dalam setahun terakhir. Penurunan 27,6% dalam setahun dan posisi harga yang mendekati batas bawah rentang 52 minggu menunjukkan sentimen pasar yang belum sepenuhnya pulih, terlepas dari perbaikan laba kuartalan.
- Risiko valuasi relatif. Dengan harga saham turun tajam sementara laba bersih kuartal II-2026 justru naik 28% yoy, ada potensi persepsi pasar dan fundamental perusahaan yang belum sejalan, yang sebaiknya dicek lewat rasio valuasi resmi di laporan keuangan.
Cara beli saham TLKM
Saham TLKM diperdagangkan dalam satuan lot, di mana 1 lot setara 100 lembar saham. Dengan harga Rp2.230 per lembar per 16 Oktober 2026, nilai 1 lot TLKM adalah Rp223.000, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.
Untuk membeli saham ini, investor perlu membuka Rekening Dana Nasabah dan rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota bursa di Bursa Efek Indonesia. Setelah rekening aktif, order beli bisa dilakukan lewat aplikasi trading sekuritas dengan memasukkan kode saham TLKM, jumlah lot, dan harga yang diinginkan.
Artikel ini disusun sebagai informasi untuk membantu riset, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham TLKM.
Sumber
- Yahoo Finance
- Wikipedia · Telkom Indonesia
- liputan6.com · Rekomendasi Saham Analis 15 Oktober 2026: TLKM, AKRA, RAJA, ULTJ, CMRY, INTP
- money.kompas.com · IHSG Sesi I Ditutup Hijau, Ditopang Saham TLKM, AMMN, hingga BBRI
- investor.id · Saham Telkom (TLKM) Kena Revisi
- selular.id · Bukan Cuma Saham TLKM, Ini Ukuran Sukses Dirut Telkom
Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.