Saham ASII: Profil Astra International, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya

ASII, saham konglomerasi Astra International, turun 27,1% dalam setahun di tengah dividen interim Rp98 per saham dan laba bersih yang tertekan.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Saham ASII: Profil Astra International, Bisnis, Kinerja, dan Risikonya

ASII adalah kode saham PT Astra International Tbk di Bursa Efek Indonesia, konglomerasi yang bergerak di otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, serta berbagai bisnis lain lewat ratusan anak usaha. Astra tercatat di bursa sejak 4 April 1990 dan, hingga Maret 2026, menaungi 322 anak perusahaan, ventura bersama, dan entitas asosiasi dengan lebih dari 190.000 karyawan.

Ringkasan saham ASII

Per 17 Oktober 2026.

AspekData
KodeASII
Nama resmiPT Astra International Tbk
Sektor/subsektorKonglomerasi multisektor (otomotif, jasa keuangan, alat berat & tambang); disebut "emiten perdagangan umum" oleh BRI Danareksa Sekuritas
Tahun IPO1990 (melantai 4 April 1990)
Harga terakhirRp4.190 per lembar
Harga 1 lotRp419.000 (100 lembar)
Rentang 52 mingguRp4.070 - Rp7.475
Kinerja 1 bulan / 3 bulan / 1 tahun-14,5% / -17,8% / -27,1%
Rata-rata volume harian (3 bulan)46,50 juta lembar
IndeksBelum ada di sumber yang kami cek

Bisnis Astra

Astra menjalankan model bisnis yang terdiversifikasi ke empat lini utama: Otomotif, Jasa Keuangan, Solusi Pertambangan & Alat Berat, dan Wider Businesses. Di segmen otomotif, Astra memegang kendali atas distribusi dan perakitan merek-merek besar lewat anak usaha seperti Astra Honda Motor, Toyota-Astra Motor, Astra Daihatsu Motor, Isuzu Astra Motor Indonesia, dan Astra Otoparts.

Di jasa keuangan, Astra punya jaringan pembiayaan dan asuransi lewat Astra Sedaya Finance, Federal International Finance, Asuransi Astra Buana, Asuransi Jiwa Astra, hingga bank digital Bank Saqu Indonesia. Segmen Solusi Pertambangan & Alat Berat ditopang United Tractors, Pamapersada Nusantara, Kalimantan Prima Persada, serta tambang emas Agincourt Resources.

Wider Businesses mencakup bisnis agro lewat Astra Agro Lestari, infrastruktur jalan tol lewat Astra Tol Nusantara, properti lewat Astra Land Indonesia, teknologi informasi lewat Astra Graphia, sampai layanan kesehatan lewat Astra Healthcare Indonesia. Astra juga punya kerangka keberlanjutan bernama Astra 2030 Sustainability Aspirations untuk memandu transisi grup ke arah yang lebih sustainable.

Sebaran bisnis yang luas ini membuat kinerja Astra jadi semacam cermin ekonomi Indonesia secara umum. Kalau daya beli masyarakat kuat, penjualan motor dan mobil biasanya ikut terangkat. Kalau harga komoditas seperti batu bara dan emas melemah, segmen tambang dan alat berat yang biasanya jadi mesin laba justru bisa tertekan.

Sejarah singkat dan IPO

Astra didirikan pada 20 Februari 1957 dengan nama PT Astra International Incorporated oleh William Soerjadjaja bersama adiknya, Tjia Kian Tie. Nama "Astra" diambil dari bahasa Latin yang berarti bintang. Perusahaan awalnya berbisnis sebagai importir dan distributor barang konsumsi, mulai dari limun Prim Club, kornet CIP, sampai pasta gigi Fresh O Dent dan Odol Dent, plus ekspor kopra dan minyak goreng.

Titik balik terjadi pada 1966, saat Astra mendapat pinjaman dana dari USAID senilai 2,9 juta dolar AS untuk mengimpor truk-truk Chevrolet buatan General Motors yang kemudian dijual ke pemerintah. Tiga tahun berikutnya, Astra beralih ke Jepang dan, lewat PT Gaya Motor, menjadi agen tunggal truk Toyota. Dari sana Astra terus melebarkan sayap: distributor tunggal sepeda motor Honda dan alat kantor Fuji Xerox pada 1970, pendirian PT Federal Motor yang kini jadi Astra Honda Motor pada 1971, PT United Tractors pada 1972, serta penunjukan sebagai agen Daihatsu pada 1973.

Astra resmi melantai di Bursa Efek Jakarta pada 4 April 1990 lewat penawaran umum perdana 30 juta lembar saham, dan di tahun yang sama mengubah nama resminya menjadi PT Astra International Tbk. Pada 2004, Astra bersama Standard Chartered Bank mengambil alih Bank Permata, hasil merger lima bank di bawah pengawasan BPPN, dengan kepemilikan gabungan mencapai 89,12% dari 2006 hingga 2020.

Pemegang saham dan manajemen

Data rinci soal komposisi pemegang saham mayoritas dan susunan direksi serta komisaris Astra yang terbaru belum ada di sumber yang kami cek. Yang tercatat di Wikipedia hanya sejarah pendirian oleh William Soerjadjaja dan Tjia Kian Tie pada 1957, serta skala organisasi terkini: 322 anak perusahaan, ventura bersama, dan entitas asosiasi dengan lebih dari 190.000 karyawan per Maret 2026. Untuk nama direksi dan pemegang saham pengendali saat ini, pembaca sebaiknya mengecek laporan tahunan Astra atau keterbukaan informasi di idx.co.id.

Kompas.com, dalam artikel 12 Oktober 2026, juga menautkan berita berjudul "Direksi dan Komisaris Astra Borong Saham ASII Rp 24,76 Miliar", namun rincian nama dan jumlah lembar per individu tidak tersedia di sumber yang kami cek.

Kinerja keuangan terbaru

Astra mencatat pendapatan bersih konsolidasian Rp157,913 triliun pada semester I 2026, turun sekitar 3% dibandingkan Rp162,857 triliun pada periode yang sama tahun 2025, menurut laporan kabasumbar.net yang merujuk informasi keuangan perseroan (9 Oktober 2026).

Laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat Rp12,533 triliun, turun 19% dari Rp15,515 triliun pada semester I 2025. Jika mengecualikan pos nonberulang tertentu seperti penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan penurunan nilai aset, laba bersih Astra sebesar Rp14,892 triliun, turun lebih moderat yakni 7% dari Rp16,041 triliun setahun sebelumnya.

Penurunan laba ini terutama berasal dari segmen Solusi Pertambangan & Alat Berat, yang labanya anjlok 46% menjadi Rp2,704 triliun dari Rp5,022 triliun pada periode pembanding. Pelemahan bisnis tambang emas, penjualan alat berat, jasa penambangan, dan pertambangan batu bara jadi penyebab utamanya.

Di sisi lain, dua segmen inti Astra justru tumbuh. Segmen Otomotif membukukan laba bersih Rp5,914 triliun, naik 9% dari Rp5,404 triliun. Segmen Jasa Keuangan mencatat laba Rp4,646 triliun, naik 6% dari Rp4,374 triliun. Pertumbuhan dua segmen ini menahan laju penurunan laba konsolidasian Astra secara keseluruhan.

Untuk data lebih lengkap seperti arus kas, posisi utang, dan rincian per kuartal, pembaca disarankan mengecek laporan keuangan resmi Astra di idx.co.id.

Dividen

Astra menetapkan dividen interim sebesar Rp98 per saham dengan total nilai sekitar Rp3,895 triliun, menurut kabasumbar.net (9 Oktober 2026), sementara progres.id (13 Oktober 2026) mencatat total nilainya sekitar Rp3,89 triliun. Keputusan ini ditetapkan direksi pada 10 September 2026 dan disetujui dewan komisaris pada 30 September 2026.

Jadwalnya: cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 12 Oktober 2026, ex dividen pada 13 Oktober 2026, dan pembayaran dijadwalkan pada 30 Oktober 2026. Praktisnya, investor yang baru membeli saham ASII pada atau setelah 13 Oktober 2026 di pasar reguler tidak lagi berhak atas dividen interim ini.

Data riwayat dividen Astra pada tahun-tahun sebelumnya belum ada di sumber yang kami cek. Untuk gambaran yang lebih lengkap soal konsistensi pembagian dividen dari tahun ke tahun, cek riwayat corporate action resmi di idx.co.id.

Pergerakan harga saham ASII

Berdasarkan data Yahoo Finance per 17 Oktober 2026, ASII diperdagangkan di Rp4.190 per lembar, berada dekat batas bawah rentang 52 minggu Rp4.070-Rp7.475. Jaraknya ke titik tertinggi setahun terakhir cukup jauh, sekitar 44% di bawahnya.

Saham ini mencatat penurunan di semua rentang waktu yang dipantau: -14,5% dalam sebulan terakhir, -17,8% dalam tiga bulan, dan -27,1% dalam setahun. Rata-rata volume transaksi harian dalam tiga bulan terakhir tercatat 46,50 juta lembar, jadi dari sisi likuiditas saham ini masih tergolong aktif diperdagangkan.

Angka ini kontras dengan laporan Kompas.com pada 12 Oktober 2026 yang mencatat ASII sempat berada di kisaran Rp4.860-Rp4.920 pada sesi itu. BRI Danareksa Sekuritas saat itu menyebut saham ASII sedang rebound dan bertahan di atas moving average 20 hari (MA20) Rp4.762, dengan proyeksi menuju resistance Rp5.050 lalu Rp5.275. Mereka juga menandai area Rp4.350-Rp4.530 sebagai support mayor, serta menyebut tren jangka menengah ASII masih bearish selama harga belum menembus MA200 di Rp5.667.

"ASII menguat 1,45 persen ke Rp4.890, bertahan di atas MA20 Rp4.762 dan berpotensi melanjutkan rebound menuju resistance Rp5.050. Kemudian Rp5.275," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, seperti dikutip Kompas.com.

Jika dibandingkan dengan data 17 Oktober yang menunjukkan harga sudah di Rp4.190, posisi ini berarti saham ASII sudah jatuh di bawah zona support mayor Rp4.350-Rp4.530 yang disebut BRI Danareksa hanya beberapa hari sebelumnya. Gambaran ini memperlihatkan betapa cepatnya sentimen pasar bisa berubah di sekitar periode ex dividen dan rilis kinerja keuangan.

Berita dan katalis terbaru

  • 9 Oktober 2026 (kabasumbar.net): Astra mengumumkan dividen interim Rp98 per saham di tengah laba bersih semester I 2026 yang turun 19%, terutama akibat pelemahan segmen tambang dan alat berat.
  • 12 Oktober 2026 (Kompas.com): Saham ASII sempat menguat ke Rp4.860-Rp4.920 pada sesi perdagangan, dengan BRI Danareksa Sekuritas menyebut dividen interim sebagai katalis jangka pendek. Artikel yang sama menautkan beberapa judul berita terkait, yaitu "Direksi dan Komisaris Astra Borong Saham ASII Rp 24,76 Miliar", "Astra (ASII) Serap Capex Rp 17 Triliun, Mayoritas ke Sektor Pertambangan", dan "Astra (ASII) Prediksi Laba Melonjak Usai Borong Saham AUTO".
  • 13 Oktober 2026 (progres.id): Jadwal resmi dividen interim dipastikan: cum dividen 12 Oktober, ex dividen 13 Oktober, pembayaran 30 Oktober 2026, dengan total nilai sekitar Rp3,89 triliun.
  • 13 Oktober 2026 (detik.com): Judul berita "ASII Borong Saham AUTO, PGEO Rampungkan 5 Sumur Panas Bumi" menyebut Astra memborong saham Astra Otoparts (AUTO), meski rincian isi beritanya tidak tersedia utuh di sumber yang kami cek.

Apa artinya buat investor

Ada beberapa hal konkret yang bisa dipantau dari rangkaian berita ini. Tanggal ex dividen ASII sudah lewat sejak 13 Oktober 2026, jadi kepastian hak atas dividen interim Rp98 per saham sudah selesai; yang masih berjalan tinggal jadwal pembayarannya pada 30 Oktober 2026.

Dari sisi harga, level Rp4.350-Rp4.530 sempat disebut BRI Danareksa Sekuritas sebagai support mayor pada 12 Oktober 2026, saat harga ASII masih di kisaran Rp4.860-Rp4.920. Data 17 Oktober 2026 menunjukkan harga sudah di Rp4.190, di bawah zona tersebut. Artinya, level-level teknikal yang disebut riset itu, seperti MA20 Rp4.762, MA200 Rp5.667, serta resistance Rp5.050 dan Rp5.275, perlu dicek ulang karena kemungkinan besar sudah bergeser seiring pergerakan harga terbaru.

Laporan keuangan semester II 2026 Astra jadi titik penting berikutnya untuk melihat apakah tekanan di segmen Solusi Pertambangan & Alat Berat berlanjut atau mereda, mengingat segmen ini yang paling menekan laba konsolidasian pada semester I 2026. Pergerakan harga batu bara dan emas dunia juga relevan dipantau karena berkaitan langsung dengan bisnis tambang Astra lewat United Tractors dan Agincourt Resources.

Sebelum mengambil keputusan apa pun, ada baiknya memeriksa laporan keuangan resmi dan keterbukaan informasi Astra di idx.co.id, termasuk kepastian status indeks dan rincian pemegang saham pengendali yang belum tercakup di sumber-sumber ini.

Pesaing di BEI

  • IMAS (Indomobil Sukses Internasional): fokus pada distribusi dan perakitan kendaraan merek seperti Nissan, Renault, dan Hino, dengan skala bisnis yang jauh lebih kecil dibanding konglomerasi Astra.
  • SMSM (Selamat Sempurna): produsen komponen otomotif seperti filter dan radiator yang berorientasi ekspor, lingkup bisnisnya jauh lebih sempit dibanding Astra yang merambah otomotif, jasa keuangan, dan tambang sekaligus.
  • MPMX (Mitra Pinasthika Mustika): distributor sepeda motor Honda dan jasa pembiayaan kendaraan di sejumlah wilayah, juga berskala jauh lebih kecil dibanding Grup Astra secara keseluruhan.

Risiko

  • Sensitivitas terhadap harga komoditas. Segmen Solusi Pertambangan & Alat Berat Astra, termasuk bisnis tambang emas lewat Agincourt Resources dan jasa penambangan batu bara, sangat terpengaruh fluktuasi harga komoditas global. Data semester I 2026 menunjukkan laba segmen ini sudah turun 46%.
  • Konsentrasi tekanan laba di satu segmen. Meski otomotif dan jasa keuangan tumbuh, penurunan tajam di segmen tambang cukup besar untuk menyeret laba bersih konsolidasian turun 19% secara keseluruhan pada semester I 2026.
  • Volatilitas harga saham jangka pendek. Dalam rentang kurang dari sepekan, harga ASII sempat berpindah dari area Rp4.860-Rp4.920 ke Rp4.190, menembus zona support mayor yang sebelumnya diproyeksikan analis. Pola ini menandakan volatilitas tinggi di sekitar peristiwa korporasi seperti ex dividen.
  • Risiko regulasi dan daya beli domestik. Bisnis otomotif dan pembiayaan Astra bergantung pada daya beli konsumen, suku bunga, serta kebijakan terkait pajak kendaraan dan pembiayaan yang diatur otoritas seperti OJK.
  • Risiko tata kelola anak usaha yang sangat banyak. Dengan 322 anak perusahaan, ventura bersama, dan entitas asosiasi, kompleksitas pengelolaan dan konsolidasi laporan keuangan grup sebesar ini jadi tantangan tersendiri bagi investor dalam memahami kinerja per segmen secara detail.
  • Valuasi relatif terhadap tren harga. Harga ASII saat ini berada dekat batas bawah rentang 52 minggu dan sudah turun 27,1% dalam setahun, yang bisa mencerminkan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap prospek laba Astra ke depan.

Cara beli saham ASII

Saham ASII diperdagangkan dalam satuan lot, di mana 1 lot setara 100 lembar saham. Dengan harga Rp4.190 per lembar per 17 Oktober 2026, nilai 1 lot saham ASII adalah Rp419.000, belum termasuk biaya transaksi dari perusahaan sekuritas.

Untuk membeli saham ini, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terdaftar sebagai anggota Bursa Efek Indonesia. Setelah rekening aktif dan dana disetor, pembelian saham ASII bisa dilakukan lewat aplikasi trading saham milik sekuritas tersebut pada jam perdagangan BEI.

FAQ

Apakah ASII rutin membagikan dividen?

Berdasarkan sumber yang kami cek, Astra membagikan dividen interim Rp98 per saham dengan pembayaran pada 30 Oktober 2026. Riwayat dividen tahun-tahun sebelumnya belum ada di sumber yang kami cek, sebaiknya periksa laporan tahunan atau data resmi di idx.co.id.

Berapa harga 1 lot ASII?

Dengan harga Rp4.190 per lembar per 17 Oktober 2026, harga 1 lot (100 lembar) saham ASII adalah Rp419.000, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.

Apakah ASII masuk LQ45?

Sumber yang kami cek tidak menyebutkan status ASII di LQ45 atau IDX30 secara eksplisit. Untuk kepastian status indeks terkini, cek data resmi di idx.co.id.

Apa bedanya ASII dengan IMAS?

ASII adalah konglomerasi besar dengan bisnis otomotif, jasa keuangan, alat berat, dan tambang lewat ratusan anak usaha. IMAS fokus pada distribusi dan perakitan kendaraan dengan skala bisnis yang lebih kecil.

Kenapa laba bersih Astra turun pada semester I 2026?

Menurut kabasumbar.net (9 Oktober 2026), penurunan laba 19% terutama disebabkan segmen Solusi Pertambangan & Alat Berat yang labanya anjlok 46% akibat pelemahan bisnis tambang emas, penjualan alat berat, jasa penambangan, dan batu bara.

Apakah harga ASII sedang berada di dekat titik terendah 52 minggu?

Per data 17 Oktober 2026, harga ASII Rp4.190 berada dekat batas bawah rentang 52 minggu Rp4.070-Rp7.475, jauh dari batas atasnya.

Artikel ini adalah informasi untuk membantu pembaca memahami profil saham ASII, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tersebut.

Sumber

  1. Yahoo Finance
  2. Wikipedia · Astra International
  3. finance.detik.com · ASII Borong Saham AUTO, PGEO Rampungkan 5 Sumur Panas Bumi
  4. kabasumbar.net · Saham ASII: Dividen Rp98 per Saham, Simak Peluang dan Risikonya
  5. progres.id · Daftar Saham di BEI yang Bagi Dividen Oktober-November 2026, ASII hingga CSRA
  6. money.kompas.com · Saham ASII Menguat ke Rp 4.860, Berpeluang ke Rp 5.050?
  • #ASII
  • #Astra International
  • #saham BEI
  • #dividen
  • #otomotif
  • #konglomerasi
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.