Saham BREN: Profil Barito Renewables, Bisnis, Kinerja, dan Risiko

BREN anjlok 80% dalam setahun ke Rp1.855, bertepatan dengan denda OJK Rp500 miliar dan rencana buyback Rp1 triliun.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dari sumber yang tercantum di bawah, lalu dicek otomatis. Bisa saja ada yang keliru atau datanya sudah berubah. Laporkan kesalahan

Saham BREN: Profil Barito Renewables, Bisnis, Kinerja, dan Risiko

BREN adalah kode saham PT Barito Renewables Energy Tbk, perusahaan energi terbarukan yang bisnis utamanya bertumpu pada pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal. Perusahaan ini bagian dari grup Barito Pacific milik taipan Prajogo Pangestu, dengan aset inti berupa Star Energy Geothermal. Per 19 Oktober 2026, saham BREN diperdagangkan di Rp1.855 per lembar, persis di titik terendah dalam 52 minggu terakhir.

Ringkasan saham BREN

Per 19 Oktober 2026.

KeteranganData
KodeBREN
Nama resmiPT Barito Renewables Energy Tbk
Sektor/subsektorEnergi, berbasis panas bumi (geothermal); klasifikasi resmi IDX belum ada di sumber yang kami cek
Tahun IPObelum ada di sumber yang kami cek
Harga terakhirRp1.855 per lembar
Harga 1 lotRp185.500
Rentang 52 mingguRp1.855 - Rp10.725
Kinerja 1 bulan-39,8%
Kinerja 3 bulan-45,8%
Kinerja 1 tahun-80,0%
Rata-rata volume harian (3 bulan)25,08 juta lembar
Indeksbelum ada di sumber yang kami cek

Bisnis Barito Renewables

Barito Renewables Energy menjalankan bisnis listrik panas bumi lewat anak usahanya, Star Energy Geothermal. Barito Pacific selaku induk mengakuisisi 66,67% saham Star Energy Geothermal pada Juni 2018, yang saat itu disebut sebagai produsen listrik berbasis panas bumi terbesar di Indonesia. Pada 2022, mayoritas saham Star Energy Geothermal dialihkan dari Barito Pacific ke Barito Renewables Energy, menjadikan BREN kendaraan utama grup Barito di sektor energi terbarukan.

Pembangkit panas bumi bekerja dengan mengubah uap panas dari reservoir bawah tanah menjadi listrik. Model bisnis ini dikenal padat modal pada tahap konstruksi awal, tapi biaya operasionalnya relatif stabil karena tidak bergantung pada fluktuasi harga bahan bakar fosil seperti batu bara atau gas. Pendapatannya biasanya terikat kontrak jual beli listrik jangka panjang dengan off-taker seperti PLN.

Barito Pacific sendiri, menurut Wikipedia Indonesia, adalah perusahaan petrokimia dan energi yang beroperasi terutama lewat dua anak usaha besar: Chandra Asri Pacific di sisi petrokimia, dan Barito Renewables Energy di sisi energi terbarukan.

Sejarah singkat dan IPO

Cikal bakal grup ini adalah PT Bumi Raya Pura Mas Kalimantan, didirikan Prajogo Pangestu pada April 1979 sebagai perusahaan perkayuan. Perusahaan ini sempat menguasai hak pengusahaan hutan seluas 5 juta hektare dan mengoperasikan lima pabrik produk kayu olahan untuk pasar ekspor di Asia, Eropa, dan Amerika.

Saham perusahaan mulai tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 1993 dengan nama PT Barito Pacific Timber Tbk. Krisis keuangan Asia 1997 membuat industri kayu lapis goyah, sehingga perusahaan menghentikan produksi plywood dan beralih bisnis secara bertahap. Pada 2007, nama berganti menjadi Barito Pacific sekaligus mengakuisisi 70% saham Chandra Asri, saat itu satu-satunya produsen olefin di Indonesia. Setahun berikutnya menyusul akuisisi Tri Polyta Indonesia, produsen polipropilen. Pada 2011, Chandra Asri digabung ke Tri Polyta yang kemudian berganti nama menjadi Chandra Asri Petrochemical, dengan SCG Chemicals asal Thailand memegang 30% sahamnya.

Langkah masuk ke energi terbarukan terjadi Juni 2018 lewat akuisisi 66,67% saham Star Energy Geothermal, lalu dipertegas pada 2022 saat mayoritas saham itu dialihkan ke Barito Renewables Energy sebagai entitas tersendiri. Tahun pasti pencatatan saham BREN di bursa tidak disebutkan di sumber yang kami cek, meski proses penawaran umumnya sempat jadi objek pemeriksaan OJK. Pembaca yang butuh tanggal IPO BREN secara pasti bisa mengecek prospektus resmi di idx.co.id.

Pemegang saham dan manajemen

Sumber yang kami cek tidak merinci nama direksi, komisaris, atau persentase kepemilikan terbaru BREN. Yang tersedia adalah temuan OJK bahwa dalam proses IPO BREN, pemesanan saham dilakukan dengan menyamarkan identitas pihak-pihak yang berhubungan dengan pemegang saham pengendali. Kepala Direktorat Komunikasi Publik OJK, Sekar Putih Djarot, menjelaskan praktik tersebut menyebabkan kepemilikan saham terkonsentrasi pada kelompok tertentu dan membatasi jumlah saham yang beredar di pasar.

Secara struktur grup, BREN berada di bawah Barito Pacific yang dikendalikan Prajogo Pangestu. Kekayaan bersihnya diperkirakan mencapai US$13,4 miliar atau sekitar Rp227,8 triliun dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, berdasarkan data Forbes per Oktober 2026 yang dikutip suara.com.

Kinerja keuangan terbaru

Dalam dokumen keterbukaan informasi terkait rencana buyback yang disampaikan 19 Oktober 2026, manajemen BREN menyertakan proforma laporan keuangan berbasis data per 30 Juni 2026 yang belum diaudit. Laba neto periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat USD87,146 juta. Total aset perseroan mencapai USD4,043 miliar, dengan total ekuitas USD944,987 juta.

Setelah memperhitungkan dampak rencana buyback Rp1 triliun, proforma total aset perseroan turun menjadi USD3,987 miliar. Karena angka ini masih bersifat proforma dan belum diaudit, serta laporan keuangan lengkap tahun berjalan tidak tersedia di sumber yang kami cek, pembaca yang ingin melihat rincian pendapatan dan laba per kuartal secara utuh sebaiknya merujuk ke laporan keuangan resmi di idx.co.id.

Dividen

Tidak ada informasi riwayat atau kebijakan pembagian dividen BREN di sumber yang kami cek. Investor yang ingin tahu apakah dan kapan BREN pernah membagikan dividen sebaiknya merujuk ke laporan tahunan atau keterbukaan informasi resmi perusahaan di idx.co.id.

Pergerakan harga saham BREN

Harga BREN di Rp1.855 pada 19 Oktober 2026 berada tepat di batas bawah rentang 52 minggu, yaitu Rp1.855 hingga Rp10.725. Saham ini sedang berada di titik terendahnya dalam setahun terakhir, jauh dari level tertinggi yang pernah dicapai pada periode yang sama.

Penurunan terjadi di semua rentang waktu yang tersedia: minus 39,8% dalam sebulan, minus 45,8% dalam tiga bulan, dan minus 80,0% dalam setahun. Rata-rata volume transaksi harian tiga bulan terakhir tercatat 25,08 juta lembar, yang menunjukkan saham ini masih aktif ditransaksikan meski harganya tertekan dalam.

Berita dan katalis terbaru

Dua peristiwa besar mewarnai BREN dalam pekan yang sama di Oktober 2026.

Pertama, OJK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda dengan total Rp2,1 triliun pada Jumat, 16 Oktober 2026, terkait dugaan manipulasi harga dan penyesatan informasi pada proses IPO saham DSSA, BREN, dan CUAN, menurut laporan suara.com dan pantau.com. Dari total itu, DSSA kena denda Rp1,5 triliun, BREN Rp500 miliar, dan CUAN Rp100 miliar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyampaikan dalam konferensi pers di Gedung BEI bahwa pemeriksaan menemukan pelanggaran proses penawaran umum saham pada BREN dan CUAN. Pemeriksaan ini bagian dari penindakan terhadap 61 saham yang masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC), di mana 31 di antaranya sudah diperiksa dan terindikasi berpotensi melanggar ketentuan pidana pasar modal. OJK juga mencatat sepanjang Januari hingga Oktober 2026, sanksi administratif telah dijatuhkan kepada 835 pihak sebagai bagian dari penegakan hukum di pasar modal.

Kedua, hanya beberapa hari setelah sanksi itu, manajemen BREN mengumumkan rencana buyback saham senilai maksimal Rp1 triliun, berlaku mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026, menurut keterbukaan informasi yang dikutip stockwatch.id dan investor.id. Dana buyback berasal dari kas internal perseroan dan pelaksanaannya dipercayakan kepada PT BNI Sekuritas. Manajemen tidak menetapkan batas volume pembelian harian. Dalam dokumen itu, manajemen menyatakan: "Menurut hasil analisa laporan Perseroan, pelaksanaan Buyback tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kinerja operasional dan pendapatan Perseroan karena Perseroan memiliki modal kerja dan arus kas yang mencukupi kebutuhan dana untuk melaksanakan Buyback." CUAN, yang juga disorot dalam kasus sanksi IPO yang sama, pada hari yang sama mengumumkan buyback senilai Rp500 miliar dengan periode serupa, merujuk pada ketentuan kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan sesuai POJK 13/2023 juncto SOJK 112/2026.

Menanggapi keputusan OJK dan BEI, manajemen BREN menyatakan menghormati keputusan tersebut dan akan mematuhi ketentuan yang berlaku, serta menegaskan operasional perusahaan dan anak usaha berjalan normal tanpa gangguan.

Apa artinya buat investor

Ada beberapa hal konkret yang bisa dipantau dari posisi BREN saat ini, bukan sinyal untuk bertindak, melainkan titik referensi.

Level Rp1.855 kini jadi batas bawah rentang 52 minggu, sementara batas atasnya Rp10.725, jarak yang sangat lebar untuk dijadikan pembanding historis. Periode buyback 19 Oktober sampai 31 Desember 2026 juga layak dipantau karena BNI Sekuritas akan aktif membeli saham BREN di pasar selama rentang itu, yang berpotensi memengaruhi volume transaksi harian. Proses pengawasan OJK terhadap 61 saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi juga belum tuntas, baru 31 yang sudah diperiksa, sehingga ada kemungkinan perkembangan lanjutan menyangkut BREN atau emiten terafiliasi.

Dari sisi fundamental, data laba dan aset yang beredar saat ini masih berupa proforma per 30 Juni 2026 dan belum diaudit. Laporan keuangan resmi yang lebih lengkap, termasuk periode setelah Juni 2026, bisa dicek langsung di idx.co.id begitu dirilis. Karena belum ada data dividen dari sumber yang kami cek, investor yang mengandalkan pendapatan dividen perlu menunggu pengumuman resmi perusahaan sebelum mengambil kesimpulan apa pun soal kebijakan pembagian laba.

Pesaing di BEI

  • PGEO (Pertamina Geothermal Energy): sama-sama bergerak di pembangkit panas bumi, tapi dikendalikan Pertamina sebagai BUMN, berbeda dari BREN yang swasta di bawah grup Prajogo Pangestu.
  • KEEN (Kencana Energi Lestari): perusahaan energi terbarukan dengan portofolio mencakup pembangkit listrik tenaga air, beda fokus teknologi dari BREN yang bertumpu pada panas bumi.
  • POWR (Cikarang Listrindo): produsen listrik swasta dengan basis pembangkit gas dan batu bara untuk kawasan industri, jadi pembanding dari sisi skala bisnis ketenagalistrikan swasta meski sumber energinya berbeda dari BREN.

Risiko

  • Volatilitas harga: saham BREN turun 80% dalam setahun dan kini di level terendah 52 minggu, Rp1.855, mencerminkan tekanan jual besar dan sentimen pasar yang masih negatif.
  • Regulasi dan hukum: OJK menjatuhkan denda Rp500 miliar kepada pihak terkait alokasi saham BREN atas temuan penyamaran identitas pemesan dalam proses IPO. BREN juga masuk dalam program pemeriksaan HSC OJK, yang membuka kemungkinan tindak lanjut pengawasan ke depan.
  • Konsentrasi kepemilikan dan likuiditas free float: temuan OJK menyebut praktik penyamaran identitas pemesan saham IPO menyebabkan kepemilikan terkonsentrasi pada kelompok tertentu sekaligus membatasi saham yang beredar di publik, berpotensi memengaruhi kewajaran pembentukan harga dan likuiditas transaksi.
  • Konsentrasi bisnis: pendapatan BREN bergantung pada satu lini usaha, yakni pembangkit panas bumi lewat Star Energy Geothermal, sehingga kinerja perusahaan sensitif terhadap kondisi operasional lapangan dan kontrak jual beli listrik jangka panjang.
  • Karakteristik sektor energi terbarukan: proyek panas bumi membutuhkan investasi awal besar dan waktu panjang untuk mencapai titik impas, sehingga arus kas jangka pendek bisa tertekan bila terjadi gangguan operasional atau penundaan proyek.
  • Efektivitas buyback: manajemen BREN sendiri mengaitkan rencana buyback dengan kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan, mengindikasikan tekanan jual di pasar belum tentu mereda meski ada aksi pembelian kembali senilai Rp1 triliun.

Cara beli saham BREN

Saham BREN diperdagangkan dalam satuan lot, di mana 1 lot setara 100 lembar saham. Dengan harga terakhir Rp1.855 per lembar pada 19 Oktober 2026, nilai 1 lot BREN adalah Rp185.500, belum termasuk biaya transaksi dari sekuritas.

Untuk bisa bertransaksi, investor perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang berizin Otoritas Jasa Keuangan dan menjadi anggota Bursa Efek Indonesia. Setelah rekening aktif dan dana disetor, pembelian saham BREN bisa dilakukan lewat aplikasi trading sekuritas pada jam perdagangan BEI.

FAQ

Apakah BREN rutin membagikan dividen?

Belum ada data riwayat dividen BREN di sumber yang kami cek. Sebaiknya cek laporan resmi di idx.co.id atau keterbukaan informasi perusahaan untuk kepastian kebijakan dividen.

Berapa harga 1 lot BREN?

Berdasarkan harga terakhir Rp1.855 per lembar pada 19 Oktober 2026, 1 lot (100 lembar) BREN senilai Rp185.500.

Apakah BREN masuk indeks LQ45 atau IDX30?

Belum ada di sumber yang kami cek. Pembaca bisa mengecek daftar konstituen indeks terbaru langsung di situs BEI.

Apa bedanya BREN dengan PGEO?

BREN berada di bawah grup Barito Pacific milik Prajogo Pangestu, sedangkan PGEO (Pertamina Geothermal Energy) adalah anak usaha Pertamina. Keduanya sama-sama bergerak di energi panas bumi tapi beda pengendali, swasta versus BUMN.

Kenapa harga saham BREN turun tajam dalam setahun terakhir?

Data Yahoo Finance mencatat BREN turun 80% dalam setahun hingga 19 Oktober 2026. Penurunan ini bertepatan dengan sanksi OJK terkait dugaan pelanggaran proses IPO BREN berupa denda Rp500 miliar yang diumumkan 16 Oktober 2026.

Apa itu buyback saham BREN senilai Rp1 triliun?

Ini rencana pembelian kembali saham oleh manajemen BREN dengan dana maksimal Rp1 triliun dari kas internal, berlangsung 19 Oktober sampai 31 Desember 2026 melalui PT BNI Sekuritas.

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham BREN.

Sumber

  1. Yahoo Finance
  2. Wikipedia · Barito Pacific
  3. stockwatch.id · Barito Renewables (BREN) Siapkan Rp1 triliun untuk Buyback Saham di BEI
  4. investor.id · BREN dan CUAN Umumkan Buyback Saham
  5. suara.com · Denda Ratusan Miliar Tak Ada Apa-apanya? Taipan di Balik BREN dan CUAN Disorot
  6. pantau.com · OJK Jatuhkan Denda Rp2,1 Triliun Terkait Saham DSSA, BREN, dan CUAN, Ungkap Manipulasi hingga Pelanggaran IPO
  • #BREN
  • #Barito Renewables
  • #saham energi
  • #geothermal
  • #OJK
  • #buyback saham
BagikanWhatsAppXTelegram

Artikel ini buat edukasi, bukan saran keuangan atau ajakan beli maupun jual aset apa pun. Trading futures berisiko tinggi. Baca juga Syarat & Ketentuan.